Sabtu, 26 Januari 2013

LUKA YANG TAK TEROBATI #cerpenku


"Kita putus ya...." Ucapnya.
"Hahhhh????? Putus????" Tanyaku memastikan bahwa yang ku dengar itu adalah salah.
"Iya. Kita putus aja. Aku ngerasa kita udah nggak nyaman. Kita masih akan tetap berteman baik kok."
"Tapi, aku salah apa??" Tanyaku heran dengan air mata yang siap menetes kapanpun.
"Kamu terlalu posesif. Aku nggak suka dan aku capek. Itu sebabnya aku udah nggak nyaman sama kamu. Maafin aku ya."
Tanpa mendengar jawabanku berikutnya ia pun pergi meninggalkan ku sendiri. Aku hanya dapat melihat ia pergi menjauh dan air mata yang tanpa terasa telah membasahi kedua pipi ini. Teganya ia pergi tanpa memberikan jawaban pasti akan keputusan sepihaknya itu.
Aku pun berjalan pulang dengan langkah lunglai. Seakan kaki ini tak kuat lagi untuk menapaki jalan membawaku selamat sampai rumah. Namun ku paksaan langkah setapak demi setapak. Hingga akhirnya aku pun tiba di rumah dan segera masuk ke dalam rumah kontrakanku.
Esok harinya aku terbangun dengan mata yang begitu sembab sehingga saat orang lain melihat sudah dapat di tebak bahwa aku habis menangis semalaman ini. Namun aku tak peduli dengan apa yang akan di katakan orang lain. Aku memberanikan diri keluar rumah dan bersiap untuk berangkat ke kampus. Aku tak ingin bermuram saja di dalam rumah. Dan aku pun sungguh ingin bertemu dengan Raka seseorang yang masih sangat ku sayangi dan yang memutuskan hubungan kami kemarin malam.
Sesampainya aku di kampus, yang ku dapati adalah Raka sedang bersama dengan Kesha, cewe cantik dan kaya yang cukup populer di kampus. Dengan emosi yang cukup meningkat aku mengahampiri keduanya yang sedang asik bercanda ria di bangku taman.
“Raka! Aku mau bicara sama kamu sekarang bisa?” Tanyaku tanpa memperdulikan gadis yang bersamanya.
“Mau ngomong apa lagi? Nggak ada yang harus di bicarakan lagi kok. Semalam semua itu sudah jelas. Jadi diantara kita semua sudah selesai.”
“Semua belum selesai. Aku nggak menyetujui apa yang kamu mau.” Suaraku yang semakin meninggi dan menjadi sorotan setiap publik yang berada di area taman.
“Tapi buat aku semua udah jelas. Kita udah putus. Tolong jangan dekatin aku lagi dan jangan nggak hubungan aku dengan Kesha.”
Ucapan yang begitu jelas dan pahit. Lalu ia pergi begitu saja tanpa perduli apa yang terjadi denganku. Aku memutuskan tidak jadi memasuki kelas hari ini dan pergi ke tempat dimana aku merasa nyaman. Sebuah taman dengan dengan beberapa pohon yang rindang dan teduh. Aku menangis sejadinya disana tanpa peduli dengan sekitar. Teringat semua kenangan manis dan indah saat bersama Raka. Semua terasa begitu sakit. Ia memutuskan untuk Kesha.
“Udah Icha jangan nangis dong.”
Sontak aku menoleh ke arah suara yang mengagetkanku. Suara itu milik Erik, dia seseorang yang aku kenal beberapa bulan lalu di toko buku.
“Hey.... Apa yang kamu lakuin disini?” Tanyaku dengan bingung.
“Harusnya aku yang tanya kenapa kamu nangis disini?”
“Hah? Aku nggak nangis kok.” Sambil menghapus air mata yang tersisa di kedua pipiku.
“Ikut aku aja yuk.”
Tanpa menunggu jawabanku menyetujui atau tidak, ia menggandengku dan mengajakku ke suatu tempat.
Sejak saat itu aku semakin dekat dengan Erik. Ia baik, perhatian dan seseorang yang ada untuk aku menumpahkan semua keluh kesahku. Ia juga yang setia mengantar dan menjemputku seusai aku pulang kuliah. Aku merasa nyaman dengan dia. Tanpa terasa aku merasa luka karna Raka sudah sedikit memudar. Dan aku merasakan perasaan aneh terhadap Erik. Mungkinkah ini perasaan sayang. Namun sudah dua bulan ini kedekatan kami tanpa status yang jelas. Kadang kala kami seperti sepasang kekasih. Namun ya semua itu belum ada kepastian dari Erik.
Tak ada yang bisa aku lakukan selain hanya diam dan menunggu Erik menyatakan apa yang ia rasakan. Sebulan sampai dua bulan aku menunggu dan tetap menjalani hubungan tanpa status ini. Sampai aku merasa bahwa Erik sedang memberikan harapan palsu terhadap ku. Namun aku berusaha tidak membiarkan prasangka itu merasuki dan berusaha menyakini hati bahwa Erik sedang menunggu waktu yang tepat pula.
Sampai pada akhirnya aku mengetahui bahwa ia baru saja pacaran dengan seorang gadis bernama Talita. Bahkan Erik sendiri yang mengenalkannya padaku.
“Icha, kenalin ini Talita. Dia pacar aku, udah lama aku sayang sama dia tapi baru bisa aku ungkapin sekarang.” Ucap Erik tanpa rasa bersalah dan dengan senyum yang sangat bahagia.
“Oh iya. Selamat ya buat kalian. Kalian pasangan yang serasi banget. Semoga langgeng ya. Aku turut bahagia sama hubungan kalian.” Ucapku yang sudah pasti hanya mampu ku ucapkan di bibir bukan dari hatiku. Karna sungguh dalam hati ini menangis.
Akhirnya kini aku tau Raka dan Erik adalah orang yang ku sayangi dan yang juga menyakiti hati ini. Beberapa minggu berlalu aku pun belum dapat menutupi perih hati ini. Dan aku pun beranjak menjauh dari Erik. Seakan mendapat luka baru.
Beberapa bulan berlalu, aku kembali menyukai seseorang tanpa aku mengenalnya. Aku hanya mengetahui namanya, dia bernama Irgi. Dan kenyataan pahit yang aku ketahui ia sudah mempunyai pacar. Aku hanya dapat melihatnya tanpa berani untuk berkenalan dengannya. Aku tau aku telah bodoh menyukai seseorang yang sudah mempunyai kekasih dan bahkan menganalnya saja tidak.
Namun aku terlalu takut untuk melangkah terlalu jauh. Biarkan saja hati ini yang akan menentukan. Apakah perasaan terhadap Irgi hanya sekedar suka atau menaiki tingkat perasaan sayang. Aku cukup bahagia meski dengan luka yang belum terobati. Aku kehilangan seorang yang sudah ku miliki dan kembali kehilangan seorang yang bahkan belum ku miliki. Dan aku menyukai seorang yang takkan ku miliki. Sepertinya begitu menyedihkan sekali kisah cintaku ini. Mungkin hati ini memang tidak di izinkan untuk sepenuhnya sembuh. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar