"Kita putus ya...." Ucapnya.
"Hahhhh????? Putus????" Tanyaku
memastikan bahwa yang ku dengar itu adalah salah.
"Iya. Kita putus aja. Aku ngerasa
kita udah nggak nyaman. Kita masih akan tetap berteman baik kok."
"Tapi, aku salah apa??" Tanyaku
heran dengan air mata yang siap menetes kapanpun.
"Kamu terlalu posesif. Aku nggak suka
dan aku capek. Itu sebabnya aku udah nggak nyaman sama kamu. Maafin aku
ya."
Tanpa mendengar jawabanku berikutnya ia
pun pergi meninggalkan ku sendiri. Aku hanya dapat melihat ia pergi menjauh dan
air mata yang tanpa terasa telah membasahi kedua pipi ini. Teganya ia pergi
tanpa memberikan jawaban pasti akan keputusan sepihaknya itu.
Aku pun berjalan pulang dengan langkah
lunglai. Seakan kaki ini tak kuat lagi untuk menapaki jalan membawaku selamat
sampai rumah. Namun ku paksaan langkah setapak demi setapak. Hingga akhirnya
aku pun tiba di rumah dan segera masuk ke dalam rumah kontrakanku.
Esok harinya aku terbangun dengan mata
yang begitu sembab sehingga saat orang lain melihat sudah dapat di tebak bahwa
aku habis menangis semalaman ini. Namun aku tak peduli dengan apa yang akan di
katakan orang lain. Aku memberanikan diri keluar rumah dan bersiap untuk
berangkat ke kampus. Aku tak ingin bermuram saja di dalam rumah. Dan aku pun
sungguh ingin bertemu dengan Raka seseorang yang masih sangat ku sayangi dan
yang memutuskan hubungan kami kemarin malam.
Sesampainya aku di kampus, yang ku dapati
adalah Raka sedang bersama dengan Kesha, cewe cantik dan kaya yang cukup
populer di kampus. Dengan emosi yang cukup meningkat aku mengahampiri keduanya
yang sedang asik bercanda ria di bangku taman.
“Raka! Aku mau bicara sama kamu sekarang
bisa?” Tanyaku tanpa memperdulikan gadis yang bersamanya.
“Mau ngomong apa lagi? Nggak ada yang
harus di bicarakan lagi kok. Semalam semua itu sudah jelas. Jadi diantara kita
semua sudah selesai.”
“Semua belum selesai. Aku nggak menyetujui
apa yang kamu mau.” Suaraku yang semakin meninggi dan menjadi sorotan setiap
publik yang berada di area taman.
“Tapi buat aku semua udah jelas. Kita udah
putus. Tolong jangan dekatin aku lagi dan jangan nggak hubungan aku dengan
Kesha.”
Ucapan yang begitu jelas dan pahit. Lalu
ia pergi begitu saja tanpa perduli apa yang terjadi denganku. Aku memutuskan
tidak jadi memasuki kelas hari ini dan pergi ke tempat dimana aku merasa
nyaman. Sebuah taman dengan dengan beberapa pohon yang rindang dan teduh. Aku
menangis sejadinya disana tanpa peduli dengan sekitar. Teringat semua kenangan
manis dan indah saat bersama Raka. Semua terasa begitu sakit. Ia memutuskan
untuk Kesha.
“Udah Icha jangan nangis dong.”
Sontak aku menoleh ke arah suara yang
mengagetkanku. Suara itu milik Erik, dia seseorang yang aku kenal beberapa
bulan lalu di toko buku.
“Hey.... Apa yang kamu lakuin disini?”
Tanyaku dengan bingung.
“Harusnya aku yang tanya kenapa kamu
nangis disini?”
“Hah? Aku nggak nangis kok.” Sambil
menghapus air mata yang tersisa di kedua pipiku.
“Ikut aku aja yuk.”
Tanpa menunggu jawabanku menyetujui atau
tidak, ia menggandengku dan mengajakku ke suatu tempat.
Sejak saat itu aku semakin dekat dengan
Erik. Ia baik, perhatian dan seseorang yang ada untuk aku menumpahkan semua
keluh kesahku. Ia juga yang setia mengantar dan menjemputku seusai aku pulang
kuliah. Aku merasa nyaman dengan dia. Tanpa terasa aku merasa luka karna Raka
sudah sedikit memudar. Dan aku merasakan perasaan aneh terhadap Erik. Mungkinkah
ini perasaan sayang. Namun sudah dua bulan ini kedekatan kami tanpa status yang
jelas. Kadang kala kami seperti sepasang kekasih. Namun ya semua itu belum ada
kepastian dari Erik.
Tak ada yang bisa aku lakukan selain hanya
diam dan menunggu Erik menyatakan apa yang ia rasakan. Sebulan sampai dua bulan
aku menunggu dan tetap menjalani hubungan tanpa status ini. Sampai aku merasa
bahwa Erik sedang memberikan harapan palsu terhadap ku. Namun aku berusaha
tidak membiarkan prasangka itu merasuki dan berusaha menyakini hati bahwa Erik
sedang menunggu waktu yang tepat pula.
Sampai pada akhirnya aku mengetahui bahwa
ia baru saja pacaran dengan seorang gadis bernama Talita. Bahkan Erik sendiri
yang mengenalkannya padaku.
“Icha, kenalin ini Talita. Dia pacar aku,
udah lama aku sayang sama dia tapi baru bisa aku ungkapin sekarang.” Ucap Erik
tanpa rasa bersalah dan dengan senyum yang sangat bahagia.
“Oh iya. Selamat ya buat kalian. Kalian pasangan
yang serasi banget. Semoga langgeng ya. Aku turut bahagia sama hubungan kalian.”
Ucapku yang sudah pasti hanya mampu ku ucapkan di bibir bukan dari hatiku. Karna
sungguh dalam hati ini menangis.
Akhirnya kini aku tau Raka dan Erik adalah
orang yang ku sayangi dan yang juga menyakiti hati ini. Beberapa minggu berlalu
aku pun belum dapat menutupi perih hati ini. Dan aku pun beranjak menjauh dari
Erik. Seakan mendapat luka baru.
Beberapa bulan berlalu, aku kembali
menyukai seseorang tanpa aku mengenalnya. Aku hanya mengetahui namanya, dia
bernama Irgi. Dan kenyataan pahit yang aku ketahui ia sudah mempunyai pacar. Aku
hanya dapat melihatnya tanpa berani untuk berkenalan dengannya. Aku tau aku
telah bodoh menyukai seseorang yang sudah mempunyai kekasih dan bahkan
menganalnya saja tidak.
Namun aku terlalu takut untuk melangkah
terlalu jauh. Biarkan saja hati ini yang akan menentukan. Apakah perasaan
terhadap Irgi hanya sekedar suka atau menaiki tingkat perasaan sayang. Aku cukup
bahagia meski dengan luka yang belum terobati. Aku kehilangan seorang yang
sudah ku miliki dan kembali kehilangan seorang yang bahkan belum ku miliki. Dan
aku menyukai seorang yang takkan ku miliki. Sepertinya begitu menyedihkan
sekali kisah cintaku ini. Mungkin hati ini memang tidak di izinkan untuk
sepenuhnya sembuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar