Rabu, 27 November 2013

AKU DAN SAHABAT SMA KU

Disini gue mau cerita tentang gue dan sahabat gue waktu gue masih SMA. Dimana gue sama dia selalu sama-sama. Nama sahabat gue itu Yuliyanti Handayani Wahyudi dan gue panggil cumi. Nggak nyambungkan?? Emang hehehe. Gue sama dia satu kelas di XI ips4. Banyak banget yang udah gue lewatin bareng dia, pastinya sih kan secara gue sekelas sama dia hahaha. Gue bakal cerita sedikit kenakalan apa aja yang udah gue sama cumi lakuin saat masih SMA. Tapi, nakal gue sama cumi masih wajar kok sama kayak kebanyakan pelajar yang lain nggak sampe tindak kriminal. Gue sama cumi sering banget bolos pelajaran kelas. Pelajaran apa aja yang sering nggak gue ikutin itu pelajaran sejarah sama geografi. Alasan gue sama cumi bolos tuh sepele, bosen karna gurunya nggak asik. Biasanya sih gue bolos ke kantin atau duduk aja di mushalla atau kadang iseng aja masuk kelas orang lain yang kebetulan nggak ada gurunya. Bahkan gue sama cumi pernah diem aja diluar kelas padahal tau ada gurunya didalem tapi, itu karna kita tau paling cuma ngoreksi LKS doang. Tapi, sesering-seringnya gue nggak ikut pelajaran gue sama cumi tetep ngerjain tugas dari guru kok tapi, ya liat sama yang udah aja *teteeeeeeup yee*. Gue sama cumi pernah sok dengerin musik metal karna ada temen sekelas gue yang kalo istirahat atau saat jam kosong kerjaannya dengerin musik metal, alhasil gue sama cumi minta semua lagu metal yang dia punya dan kita dengerin dirumah. Kalo ditanya ngerti apa nggaknya gue sama cumi soal musik metal, jawabannya ENGGA!!!! Gue sama cumi nggak cuma kompak disekolah aja, diluar sekolah juga tetep kompak selalu. Setiap mau main gue selalu sama dia. I miss this moment :”(
Seiring berjalannya waktu ke waktu, tiba dimana hari perpisahan itu tiba. Ya!! Kelulusan SMA. Tadinya gue fikir walaupun udah lulus gue sama dia bakal tetep sering ketemu dan ngabisin waktu bareng tapi, ternyata perkiraan gue salah. Gue sama dia jarang ketemu. Bisa di itung deh dari kelulusan sampe sekarang berapa kali doang bisa ketemu dia. Entah gue yang nggak bisa atau dia yang nggak bisa. Susah menemukan titik temu yang tepat. Dibilang kangen itu pasti. Huuuuftt tapi ketemu atau nggak. Sering atau engganya gue main sama dia. Dia tetep sahabat gue. Sahabat yang sangat ngerti gue. Dan gue sayang dia. Gue nggak akan lupain setiap kenangan yang udah gue lewatin bareng dia.

Ini sekilas cerita persahabatan gue di SMA dan akan tetap berlanjut sampai kapanpun. Gue nggak perlu ngejelasin definisi persahabatan kan?? Yang pasti sahabat itu yang bisa ngertiin lu. Ada disaat lu butuh. Nyemangatin lu dalam segala hal. Seperti, sahabat gue cumi yang selalu nyemangatin gue buat bikin novel :”))


Ina...

AKULAH PEMUJAMU #1

Aku melihatmu tanpa adanya perencanaan. Saat itu aku baru saja keluar kelas dan aku melihat sosokmu tengah bercanda dengan teman-temanmu. Aku memperhatikan gerak-gerikmu. Mencuri pandangmu dari berbagai sudut. Sosokmu begitu mudah memikat dan mengunci dirimu dalam pandanganku. Setelah itu entah mengapa aku sering membayangkanmu. Mengingat parasmu dalam setiap malamku. Aku ingin bertemu lagi denganmu. Sayangnya aku tak selalu bertemu dengannya. Hanya ketidaksengajaan yang membuat pertemuan itu, terkecuali hari sabtu. Hari dimana awal aku melihatnya.
Sabtu ini aku bertemu dengannya. Aku sengaja menunda kepulanganku seusai kelas hanya untuk bisa melihatnya. Cukup lama aku menunggu untuk sekedar memandangnya. Hingga waktunya tiba, ia keluar kelas dan ia duduk tidak jauh dariku. Tepat di sebelah kiriku. Degup jantung ini berdegup lebih cepat dari biasanya. Hati ini merasakan ada getaran aneh. Serta tubuh ini seakan lemah berada didekatnya. Aku memperhatikannya lebih dalam. Tentunya aku memperhatikannya tanpa sepengetahuannya. Lancangnya fikiranku ingin meraih tanganmu dan menggenggam jemari dalam jemariku. Aku diam seketika ketika dalam pandanganku aku melihat cincin yang melingkari di jari manis sebelah kirinya. Aku berusaha berfikir itu hanya cincin biasa yang ia kenakan. Menolak pemikiran bahwa itu sebuah cincin pertunangan. Mungkinkah??
Betapa bodohnya aku memikirkan hal seperti ini. Hei, aku bahkan tidak tahu namamu, username twittermu, bahkan nomor telfonmu. Nomor telfonmu??? Mengetahui namamu saja sudah membuatku bersyukur. Berkhayalkah aku jika ingin mengenalmu. Bahkan ingin dekat denganmu. Aku akan tetap melihatmu meski pandanganmu tidak akan menoleh kearah ku. Menatapmu dari tempat yang takkan kau sadari. Meski begitu banyak waktu yang akan ku habiskan untuk hanya sekedar memandangmu dalam diamku. Menahan perasaan inginku sapa dirimu atau bahkan hanya untuk sekedar memberi senyum padamu. Aku begitu pengecut. Aku begitu jatuh cinta disetiap pertemuan kita, walau aku begitu sadar diri bahwa hanya kau yang menganggap ini sebagai pertemuan yang pastinya begitu berharga untukku dan tak ingin ku lewatkan sedetikpun.

Kutipan lagu :
“mataku terus tertuju padamu saat ku lihat dirimu tersenyum ingin aku menyapa namun ku terdiam tak ku lakukan”
“apakah kau rasakan getaranku pada dirimu ku hanya duduk terdiam menunggu untuk tau namamu”
“walau ku sangat ingin bertemu walau ku menyukaimu kau jalan berlalu didepan mataku walaupun jadi begini aku tetap melihatmu dari tempat ini”

Ina....

Kamis, 21 November 2013

QUOTES

APA YANG KITA PERTAHANKAN.....???
a.      Bagaimana bisa aku tetap mempertahankan “KITA” jika kamu saja seakan acuh dengan semua ini?
b.    Aku mencoba mengerti dengan setiap keinginanmu namun mengapa aku tak bisa mendapatkan itu darimu sayang? Aku pun ingin dimengerti olehmu.
c.    Mengapa kamu selalu saja sibuk dengan mereka. Dengan semua kegiatan social mediamu sedang ada aku disampingmu yang ingin kamu mendengarkan keluh kesahnya.
d.    Aku pun ingin seperti mereka bisa duduk santai denganmu sembari mengenggam jemarimu dan berbincang ringan tentang keseharian kita, bukan seperti ini hanya kata-kata emosi yang meluap.
e.    Aku ingin kamu perhatikan, kamu kasihi, kamu manja dan kamu sayang. Bukan kamu abaikan aku seperti ini. Aku ini ada di hadapmu sayang.
f.    Mengapa dihadapku kamu masih bisa saja bercanda dengan orang lain (lawan jenis)? Mengapa denganku seakan begitu sulit untukmu?

HANYA BISA MEMENDAM PERASAAN.......
a.    Aku hanya mendengar ceritamu, memberikan pendapat tanpa kau sadari aku mempunyai rasa yang lebih untukmu.
b.    Aku hanya diam ketika melihatmu bersamanya, karna memang aku tiada hak untuk melarangmu. Aku hanya diam.
c.    Melihatmu dari jauh saja aku sudah merasa bahagia karna aku hanya pengagummu yang takkan kau ketahui keberadaanya.
d.    Rasanya tak mungkin aku mengutarakan rasa yang sudah ku simpan ini. Hanya karna aku tak ingin ada jarak diantara kita.
e.    Aku bisa tersenyum melihatmu bercanda ria dengannya tanpa kau ketahui dalam hati ini aku menangis.
f.    Tak terbacakah begitu banyak kode yang ku lemparkan untukmu. Atau sengajakah kau butakan matamu agar tak melihat semua itu.
g.    Aku ingin lebih dari sekedar menjadi temanmu. Aku ingin menjadi sosok yang berarti untukmu. Tak sadarkah kamu akan hal itu.
KITA PACARAN JARAK JAUH......
a.    Dengan jarak aku belajar, belajar untuk mengerti apa itu sabar menanti sebuah pertemuan.
b.    Aku percaya perasaan ini akan tetap ada meski mata kita tak selalu bertatapan dan jemari kita tak selalu berada dalam satu genggaman.
c.    Sadarku kita tak punya banyak waktu untuk bertemu seperti pasangan lainnya. Namun pintaku hanya ingin agar komunikasi kita tetap lancar meski dengan kesibukan kamu.
d.    Kadang aku merasa sendiri. Aku merasa tidak memiliki dirimu saat kabarmu tak ku dapati di ponselku.
e.    Aku mempercayaimu, aku menjaga cintamu disini tapi, entah bagaimana bisa kamu mempermainkan kepercayaanku dengan mengadakan dia diantara kita.
f.    Aku mempunyai musuh bernama jarak dan mempunyai ketakutan akan adanya orang ketiga.
g.    Baiklah sayang, aku biarkan kamu dengannya yang selalu menemanimu karna aku yang tak bisa selalu ada disampingmu.

Ina....

PERTEMUAN PERTAMA

Hari ini tanggal 20 November 2013 akhirnya gue bisa ketemu sama sosok yang gue fikir nggak mungkin buat ketemu dia. Pertemuan yang udah gue impikan sudah lama hari ini terjadi. Setelah sebelumnya hanya kegagalan yang terjadi. Dia, sosok yang 2thn lebih muda dari gue ternyata lebih tinggi dari gue. Gue Cuma bisa diam seakan tak percaya. Awalnya gue fikir ini akan jadi perbincangan serius tapi, ternyata hanya perbincangan tanpa makna dan jawaban yang pasti. Gue Cuma mau tau apa alasan dia nyuekin gue, dan dia hanya jawab “Nggak tau” jawaban tolol apa itu. Bahkan saat pertemuan pertama ini kita masih aja debat. Mendebatkan dia yang seketika deket sama cewe lain. Dan, jawabnya “Lu juga pacaran lagi kan. Emang gue nggak tau.” Gue langsung diem tanpa tau apa yang harus gue jawab. Gue cuma nanya “Tau dari mana?” da dia jawab “Gue tau dari twitter lu. Jangan lu kira gue nggak tau.” Oke! Gue makin diem dan mikir dia tau dari mana twitter gue. Dan bodohnya dia berfikir gue mau meminta dia buat balikan. Gurauan macam apa ini. Andai saja dia tau 30menit bukan waktu yang cukup buat gue ngutarain apa yang gue rasain selama ini. Gimana keselnya gue saat kebanyakan SMS gue dia abaikan begitu saja. Gimana keselnya gue saat telfon gue di anggap seperti alarm yang di diamkan begitu saja. Gimana keselnya gue saat dia nggak pernah ada disaat gue butuh dia. Tapi, mungkin percuma kalaupun sampe di omongin karna dia mungkin nggak akan pernah ngerti sama apa yang gue rasain. Karna emang dia nggak punya perasaan yang sama kayak yang gue rasain buat dia. Gue nggak pernah bercanda saat gue bilang gue sayang dia. Mungkin terdengar sangat gila, gue sayang sama orang yang nyuekin gue. Yang nganggep gue cuma kayak patung tanpa arti. Semua udah terlambat. Semua udah selesai. Gue sama dia nggak mungkin sama-sama lagi. Dia udah nemuin pilihannya dan bukan gue orangnya. Gue cuma bisa berharap cukup gue orang yang dia bilang sayang tapi tanpa perasaan. Cukup gue orang yang dia bikin percaya tapi setelah itu diabaikan begitu saja. Cukup gue.

Lirik lagu : “Mungkin kisah kita tlah usai tak demikian cintaku
“Aku pernah menyayangimu dan dihati ini masih ada namamu. Yang lambat laun aku harap rasa ini hilang. Karna mengharapkanmu hanya akan membuatku semakin terpuruk.”

Ina...