Jumat, 24 April 2015

KAMU YANG AKU PERJUANGKAN

Sampai saat ini aku masih meyakini apa yang hatiku inginkan. Aku masih sangat menjaga apa yang harapkan. Namun, selayaknya perahu yang tengah berlayar di tengah lautan dan tersambar ombak yang besar. Itu yang aku rasakan. Beberapa hari ini aku memikirkan hal yang sama. Kamu. Bodoh memang, untuk apa aku memikirkanmu. Namun semakin aku berusaha menghindar semakin daya ingat ini terus menarik ke arah mu. Seakan semua tentangmu begitu menarik untuk ku ketahui. Iya, semua. Termasuk tentang bagaimana hubunganmu dengannya. Aku mendengarkannya hampir disetiap malamku. Ada dingin yang begitu saja merasuk. Ada hening yang begitu saja hinggap. Ada tangis yang begitu saja ingin ku luapkan namun lebih ku tahan. Ada sakit yang entah bagaimana aku deskripsikan saat kamu ceritakan bagaimana sikapnya kepadamu. Yang katamu ia mengesampingkanmu walau katanya kamu adalah masa depannya. Aku sakit mendengarnya. Bagaimana bisa ia mengacuhkanmu sedang ada aku yang begitu mendambakan kebersamaan denganmu. Ada aku yang tengah berjuang mendapatkan hatimu, yang dengan jahatnya ingin melepaskan genggaman tangannya dari tanganmu. Ada sakit yang tak kamu ketahui saat kamu mengatakan padaku "Coba bayangkan aku yang udah capek, mata udah ngantuk tapi, kamu tetep nanggepin bbmnya dan jadi asik." Percayalah aku pernah mengalami hal serupa saat denganmu. Ku biarka  kedua mata ini tetap terjaga meski terkantuk untuk berkomunikasi denganmu. Karna aku tidak ingin melewatkan waktu. Semua waktu ku berharga jika ku habiskan karenamu. Bahkan kini aku tengah membuang waktu ku untuk menunggumu, tenanglah aku punya begitu banyak waktu untuk ku buang begitu saja jika itu karenamu. Sampai hati ini lelah menanti. Aku takkan memaksamu meninggalkannya. Takkan pernah ku lakukan itu. Biarkan saja hati kecilmu yang menentukan pada siapa kamu akan menjalani harimu. Dengannya yang begitu sulit memberi waktu untukmu atau denganku yang begitu suka rela membuang waktu untukmu, denganmu.

Rabu, 08 April 2015

PERIHAL HATIKU

Aku hanya ingini bahagia. Dan, Tuhan tidak pernah bercanda saat memberi tawa bahagia pada umatnya. Ku ucapkan syukur tiada tara. Hati yang mungkin tlah lama mati kini telah bernyawa kembali. Aku yang telah lama tidur kini telah tersadar. Layaknya putri tidur yang bangun lantaran mendapati sebuah kecupan dari sang pangeran. Aku mendapati sadarku dari tamparan kata-katamu. Hebatnya kamu. Berjuta kata yang terucap dari mulutmu membuatku diam mematung. Tak ada kata yang tepat untukku menjawabnya. Bukankah aku selalu mengelak saat orang lain berbicara tapi, denganmu aku bagai anak kelinci yang di hadang sang singa. Hanya diam.
Tuhan, aku mengucap syukur atas semua yang telah engkau beri padaku. Tapi, Tuhan tidak kah engau bercanda atas perasaan yang kau beri padaku ini. Perasaan apa ini?? Nyaman dengan keberadaannya. Tenang dengan tatapannya. Tatapan yang begitu teduh. Membuat luluh saja. Tidaaak Tuhan! Jangan dia. Aku tak ingin kehilangannya lantaran aku mempunyai rasa terhadap seorang yang telah memiliki kekasih. Hubungan yang telah mereka jaga dan aku hanya singgah sebentar. Mungkin hanya waktu, waktu yang mengantarkanku pada masa di mana aku harus melenyapkan semua yang tak ku harapkan. Bukan aku tidak bersyukur karna bertemu dengannya. Aku sangaaat bersyukur dapat mengenal bahkan mendapati perhatiannya. Aku hanya tidak siap jika harus kehilangan itu semua.
Ini perihal hatiku. Biar saja aku yang bertanggung jawab penuh atasnya. Tawa, bahagia atau bahkan tangis sekalipun, aku terima.