Kamu tau balon yang tertiup angin tanpa arah? Ia tertiup jauh karna tak ada batu atau semacamnya untuk menahannya ditanah. Seperti itu aku. Kala aku tertiup bebas di udara seketika aku terhenyak jatuh ke tanah karna batu yang menahanku. Ada gemuruh ricuh dalam otakku. Pertanyaan bodoh macam apa yang dapat menghenyakkan jantung ini. Seakan ia bagai mesin yang seketika ditekannya tombol off dan mati begitu saja. Aku bagai bocah yang kamu rayu dengan sebuah lolipop setia disampingmu namun saat ku pinta lolipop itu hanya sebuah senyum yang kau berikan. Manis.
Kamu membuatku cinta dengan beribu kata manis yang kau utarakan. Kamu membuatku cinta dengan semua perlakuanmu yang membuatku bagai seorang putri kerajaan. Kamu membuatku melayang bebas menikmati rayuanmu. Ucapan sayangmu. Ahhh aku terlena. Tak bosan aku membaca semua pesanmu kembali sebelum aku terpejam. Hanya membuatku yakin ini bukan mimpi. Setiap pagi, kala ku membuka mata sudah ku dapati sebuah pesan manis darimu. Membuat langkah semangat disetiap pagiku. Membuat guratan senyum yang melingkar menghiasi pagiku.
Seperti tertombak saat berburu. Saat ku tau kita tidak dalam status yang orang sebut "pacaran". Jantung ini seakan berhenti. Hening. Sunyi. Tetiba saja dingin merasuki tulang rusukku. Namun entah malaikat mana yang merasuki. Entah mantra apa yang kamu tuang dalam setiap ucapanmu. Aku percaya padamu bahwa ini bukan perihal karna wanita lain. Dan kamu yang juga percaya padaku, membebaskan aku jika ada yang lain. Namun aku terlalu lelah mencari. Aku ingin disini bersamamu, duduk manis menunggu kesiapanmu bahagia denganku. Jika ada perangkai kata semaut dirimu, mungkin saja. Dikecewakanmu saja aku bahagia. Kamulah jurang di mana aku rela terlempar sesering mungkin
Senin, 23 Februari 2015
Selasa, 17 Februari 2015
KU TEMUKAN KAMU
Matahari pagi sudah ku temukan. Aku merasakan lagi hangatnya. Merasuki tulang. Sejuk embun masih ku rasa. Sepanjang perjalanan aku hanya tersenyum. Mengingat kembali hari-hari kemarin yang aku takkan lupa. Tidak! Aku tidak bertemu dan melakukan hal bersama dengannya. Hanya sebuah pesan. Hanya itu dan membuat aku terbang melayang. Aku harap tidak kau jatuhkan aku.
Aku kembali merasa jatuh cinta. Merasa deg-degan lagi. Merasa pipi ini begitu berseri merah merekah kala mendapati pesanmu. Ahhhh ini gila. Pada satu malam kita dalam percakapan yang cukup gila. Kita berbincang akan saling memiliki. Apa ini?? Apa status pertemanan kita akan berubah menjadi status pacaran?? Yakinkah kamu??
Kamu berkata jujur akan apa yang kamu rasakan. Ingin bersamaku. Ingin memilikiku. Dan ingin sebuah pertemuan. Kita memang sudah tak lama bertemu. Berapa lama yah?? Mungkin setahun lebih. Cukup lama. Aku ingin bertemu denganmu. Sangat ingin. Dan, pada saatnya sebuah pertemuan yang kita dambakan itu hadir kamu hanya berkata "Ciee akhirnya ketemu juga" aku hanya tertunduk tersipu malu dan bahagia. Berada didekatmu dengan waktu seadanya. Karna esok kita akan kembali melewati hari tanpa tatap langsung, tanpa sebuah genggaman dan hanya kata rindu yang dapat kita sampaikan dalam sebuah pesan atau percakapan kita.
Aku harap jarak ini hanya jembatan kecil tanpa halangan yang besar. Membuat kita tetap percaya akan bahagia bersama. Akan ikatan saling memiliki. Jalani saja dengan keyakinan kita. Semoga Tuhan meng-Amin-kan semua doa kita.
Surat ini harusnya ku posting dua hari yang lalu. Karna sibuk harus ku tunda. Surat untuk seseorang dengan akun twitternya @wahdoy_
Aku kembali merasa jatuh cinta. Merasa deg-degan lagi. Merasa pipi ini begitu berseri merah merekah kala mendapati pesanmu. Ahhhh ini gila. Pada satu malam kita dalam percakapan yang cukup gila. Kita berbincang akan saling memiliki. Apa ini?? Apa status pertemanan kita akan berubah menjadi status pacaran?? Yakinkah kamu??
Kamu berkata jujur akan apa yang kamu rasakan. Ingin bersamaku. Ingin memilikiku. Dan ingin sebuah pertemuan. Kita memang sudah tak lama bertemu. Berapa lama yah?? Mungkin setahun lebih. Cukup lama. Aku ingin bertemu denganmu. Sangat ingin. Dan, pada saatnya sebuah pertemuan yang kita dambakan itu hadir kamu hanya berkata "Ciee akhirnya ketemu juga" aku hanya tertunduk tersipu malu dan bahagia. Berada didekatmu dengan waktu seadanya. Karna esok kita akan kembali melewati hari tanpa tatap langsung, tanpa sebuah genggaman dan hanya kata rindu yang dapat kita sampaikan dalam sebuah pesan atau percakapan kita.
Aku harap jarak ini hanya jembatan kecil tanpa halangan yang besar. Membuat kita tetap percaya akan bahagia bersama. Akan ikatan saling memiliki. Jalani saja dengan keyakinan kita. Semoga Tuhan meng-Amin-kan semua doa kita.
Surat ini harusnya ku posting dua hari yang lalu. Karna sibuk harus ku tunda. Surat untuk seseorang dengan akun twitternya @wahdoy_
Minggu, 15 Februari 2015
BAHAGIAKAN DIA
Kita mengenal setahun yang lalu. Berawal hanya dari chat biasa. Lambat laun kita seperti ada kerterikatan. Saling memberi kabar. Ada bahagia sendiri saat berkomunikasi denganmu. Senyum-senyum geli aku mengingatnya. Hanya memandang fotomu saja membuat aku gila.
Taukah kamu ada perasaan nyata yang timbul dalam hati. Apa kamu merasakan itu? Aku mengutarakannya padamu. Tak ku duga kamu pun ternyata punya rasa yang sama. Ahhh serasa semua sempurna. Kita hanya dihalangi beberapa kilometer. Tak masalah untukku namun masalah untukmu. Hanya keyakinan aku untuk bersamamu. Merasa semua sia-sia. Untuk apa kamu bilang perasaan yang sama jika tak kau wujudkan itu.
Sayang. Aku ingin semua ini menjadi nyata. Tapi, aku bisa apa jika kau tak menginginkannya. Aku hanya diam dan bersabar semoga kelak kamu tau disini ada aku yang sedang menunggumu. Menyambut jika kau siap untuk bersamaku walau jarak yang kau permasalahkan itu sudah tak berarti. Entah kapan.
Aku dengar kamu sudah mengenggam jemari seorang gadis. Siapa dia? Kekasihmu? Atau gebetanmu. Pasti kekasihmu. Beruntungnya dia mendapati kamu. Aku yang menunggumu tapi, ia yang bersamamu. Aku cemburu bodoh. Aku tak bisa menahan jutaan air mata yang jatuh membasahi pipi kala aku tau kamu begitu menyayanginya. Apa dia bisa bersabar dikala egomu datang. Apa dia bisa membujukmu dikala amarahmu membara. Tapi, sudahlah ia sudah menjadi pilihanmu.
"Untuk kamu yang pernah ku sayangi. Selamat berbahagia tanpa aku"
Taukah kamu ada perasaan nyata yang timbul dalam hati. Apa kamu merasakan itu? Aku mengutarakannya padamu. Tak ku duga kamu pun ternyata punya rasa yang sama. Ahhh serasa semua sempurna. Kita hanya dihalangi beberapa kilometer. Tak masalah untukku namun masalah untukmu. Hanya keyakinan aku untuk bersamamu. Merasa semua sia-sia. Untuk apa kamu bilang perasaan yang sama jika tak kau wujudkan itu.
Sayang. Aku ingin semua ini menjadi nyata. Tapi, aku bisa apa jika kau tak menginginkannya. Aku hanya diam dan bersabar semoga kelak kamu tau disini ada aku yang sedang menunggumu. Menyambut jika kau siap untuk bersamaku walau jarak yang kau permasalahkan itu sudah tak berarti. Entah kapan.
Aku dengar kamu sudah mengenggam jemari seorang gadis. Siapa dia? Kekasihmu? Atau gebetanmu. Pasti kekasihmu. Beruntungnya dia mendapati kamu. Aku yang menunggumu tapi, ia yang bersamamu. Aku cemburu bodoh. Aku tak bisa menahan jutaan air mata yang jatuh membasahi pipi kala aku tau kamu begitu menyayanginya. Apa dia bisa bersabar dikala egomu datang. Apa dia bisa membujukmu dikala amarahmu membara. Tapi, sudahlah ia sudah menjadi pilihanmu.
"Untuk kamu yang pernah ku sayangi. Selamat berbahagia tanpa aku"
Jumat, 13 Februari 2015
RINDUKU, KEACUHANKU
Hampir seminggu hujan membasahi bumi setiap pagi. Awan hitam menutupi cahaya matahari. Aku rindu akan hangatnya sinar matahari pagi. Seperti aku rindu akan hadirnya kamu disini.
Heeem apa kabar kamu disana? Terasakah rinduku? Apa kamu merasakan rindu yang sama terhadapku? Aku rasa tidak. Memang siapa aku hingga harus mendapati sebuah rindu darimu. Tak apa. Aku sadar.
Ingin ku habiskan waktu denganmu. Mustahilkah itu? Sekedar duduk menikmati secangkir coklat panas atau coffe yang biasa kau teguk setiap malamnya. Mendengar langsung dari mulutmu bagaimana kehidupanmu. Mungkin ini khayalku saja. Dosakah? Terkadang aku ingin pergi darimu. Menjauh, menghiraukan kabarmu. Aku belum mampu atau memang hati ini tidak ingin melakukannya. Seiring langkah kaki, detakkan jantung bergemuruh kala memikirkanmu, mungkin aku akan melupakanmu. Karna teringat akan hadirnya ia disisimu takkan mampu mengubah aku dan kamu menjadi kita.
"Untuk kamu seseorang yang tengah mencuri perhatianku dengan keacuhanmu. "
Heeem apa kabar kamu disana? Terasakah rinduku? Apa kamu merasakan rindu yang sama terhadapku? Aku rasa tidak. Memang siapa aku hingga harus mendapati sebuah rindu darimu. Tak apa. Aku sadar.
Ingin ku habiskan waktu denganmu. Mustahilkah itu? Sekedar duduk menikmati secangkir coklat panas atau coffe yang biasa kau teguk setiap malamnya. Mendengar langsung dari mulutmu bagaimana kehidupanmu. Mungkin ini khayalku saja. Dosakah? Terkadang aku ingin pergi darimu. Menjauh, menghiraukan kabarmu. Aku belum mampu atau memang hati ini tidak ingin melakukannya. Seiring langkah kaki, detakkan jantung bergemuruh kala memikirkanmu, mungkin aku akan melupakanmu. Karna teringat akan hadirnya ia disisimu takkan mampu mengubah aku dan kamu menjadi kita.
"Untuk kamu seseorang yang tengah mencuri perhatianku dengan keacuhanmu. "
Rabu, 11 Februari 2015
SEMANGATI AKU
Aku membuat ini untuk seorang gadis yang tengah duduk manis di sudut cafe. Iced Cappucino yang masih penuh terlihat jelas belum ia minum sedikit pun. Jemarinya yang masih sibuk mengetik dengan tatapan fokusnya.
Gadis penyuka kata-kata. Lebih memilih memainkan penanya dibandingkan dengan suaranya. Sewaktu ia akan hanyut dalam microsoft word yang penuh dengan luapan kata dalam otaknya. Entah kata-kata romantis, puitis, bahkan cacian. Semua ia tuangkan. Impiannya adalah menjadi penulis.
Baginya setiap kata itu indah entah baik atau kasar. Entah kapan impiannya akan terwujud. Sedari awal ia ingin duduk dibangku kuliah dengan jurusan Sastra Indonesia bukan dibidang Akuntansi. Namun, apalah daya mamanya tak merestui, dengan terpaksa ia menuruti mamanya dengan kukiah di jurusan Akuntansi. Dan, pada akhirnya kuliahnya pun berantakan. Ia hanya menulis pada halaman blognya. Atau pada nemo handphone-nya yang kemudian ia share ke path, instagram, tumblr atau bahkan twitter. Banyak yang menyarankan, buatlah sebuah novel lalu kirimkan pada penerbit. Dan, ia hanya menjawab, tidak semudah itu. Ia lebih sering menulis kata-kata yang saat itu ia fikirkan.
Gadis pecinta kata itu ialah aku sendiri. Aku adalah gadis yang mempunya impian menjadi penulis. Menulislah terus dan tunjukkan semua hasil tulisanmu, hobimu pada mama.
"Aku menyemangati diriku sendiri, semampunya usahaku"
Gadis penyuka kata-kata. Lebih memilih memainkan penanya dibandingkan dengan suaranya. Sewaktu ia akan hanyut dalam microsoft word yang penuh dengan luapan kata dalam otaknya. Entah kata-kata romantis, puitis, bahkan cacian. Semua ia tuangkan. Impiannya adalah menjadi penulis.
Baginya setiap kata itu indah entah baik atau kasar. Entah kapan impiannya akan terwujud. Sedari awal ia ingin duduk dibangku kuliah dengan jurusan Sastra Indonesia bukan dibidang Akuntansi. Namun, apalah daya mamanya tak merestui, dengan terpaksa ia menuruti mamanya dengan kukiah di jurusan Akuntansi. Dan, pada akhirnya kuliahnya pun berantakan. Ia hanya menulis pada halaman blognya. Atau pada nemo handphone-nya yang kemudian ia share ke path, instagram, tumblr atau bahkan twitter. Banyak yang menyarankan, buatlah sebuah novel lalu kirimkan pada penerbit. Dan, ia hanya menjawab, tidak semudah itu. Ia lebih sering menulis kata-kata yang saat itu ia fikirkan.
Gadis pecinta kata itu ialah aku sendiri. Aku adalah gadis yang mempunya impian menjadi penulis. Menulislah terus dan tunjukkan semua hasil tulisanmu, hobimu pada mama.
"Aku menyemangati diriku sendiri, semampunya usahaku"
Langganan:
Postingan (Atom)