Minggu, 12 Oktober 2014

RINDU INI

Seperti rembulan yang menyinari malam, kamu  yang memancarkan sinar terang dalam hidupku. Aku layaknya bintang kecil yang mungkin begitu sulit kau lihat. Kini aku tengah menatapmu tanpa lengah. Entah kamu sadar atau tidak akan keberadaanku. Mungkin saja kamu sadar hanya saja kamu begitu sangat tidak peduli akan adanya aku. Sedang aku begitu mendambakan pertemuan kita. Iya!! Itu pertama kalinya aku melihatmu secara nyata. Meski pada nyatanya semua harapan dan anganku dulu tidak bisa aku lakukan kini. Dulu, aku mengharapkan bisa benar-benar menatap kedua bola matamu. Menyentuh kedua tanganmu dan menggenggam jarimu. Bahkan memelukmu dengan begitu erat. Kini nyatanya semua tak bisa aku lakukan karna yang hanya dapat aku lakukan hanya melihatmu dan memperhatikanmu. Taukah kamu betapa hati ini berguncang, betapa jantung ini berdegup sangat cepat dan betapa aku ingin menangis. Aku ingin menangis karna aku begitu merindukanmu, sangat. Sudah berapa lama kita tidak berkomunikasi?? Seminggu?? Atau sebulan??? Seberapapun itu aku merindukanmu. Aku ingin bertanya padamu, apa yang kau rasakan sebenarnya terhadapku. Apa semua pengakuan sayangmu terhadapku hanya bualan semata? Hanya ucapan tanpa rasa yang nyata. Pernah ku katakan jika perasaan yang ku miliki padamu adalah nyata. Dan itu masih sangat aku rasakan hingga kini.

Kini aku tau kamu tengah bersama yang lain. Ya!! Aku dengar kamu tengah menggenggam hubungan bersama seorang gadis. Apa gadis yang kini bersamamu ia adalah orang yang kau sayangi sesungguhnya. Gadis yang akan menjalani kehidupan nyata denganmu. Dan, yang  ku tahu sepertinya ia terlalu bocah. Apa dia bisa mengertimu daripada aku?? Atau mungkin ini karma yang harus kamu terima?? Dulu aku mencoba menerima sikapmu yang terlalu mudah marah, sangat mudah ngambek saat kemauanmu tak ku turuti. Apa sekarang kamu yang melakukan itu untuknya? Kamu yang mengertinya? Beruntung sekali dirinya. Bahkan dulu aku merasa tak pernah dimengertimu. Pedih.


Mungkin memang kamu nggak pernah sesayang aku menyayangimu. Kamu nggak pernah merindu sedalam aku merindukanmu. Kamu tidak pernah merasakan itu semua. Sementara aku disini begitu lemah, begitu rapuh. Sikap dinginmu kini adalah siksa yang ku rasa, hantaman karang masih kalah perih dari ini. Aku hanya mencoba tegar menghadapi sikapmu. Boleh aku jujur padamu, aku masih berharap sikapmu akan seperti semula. Sikap  manismu yang takkan membuatku lupa, yang bahkan masih sangat ku ingat. Sikap manjamu, sikap ambekanmu itu semua aku rindukan. Sudahlah aku ingin sekali tidak peduli dengan ini semua, sama seperti kamu yang sangat tidak peduli terhadap perasaan ini. 

TAK MAMPU ATAU TAK MAU

Aku adalah seorang pelupa namun tak mampu melupakanmu. Aku tengah mencoba lupa akan sosokmu. Aku menjadi bodoh dengan perasaanku sendiri. Iya!! Ini perasaanku, bukan perasaanmu. Sebab disini hanya aku yang merasakan ini semua. Hanya aku yang mempunyai rasa teramat dalam untukmu. Aku yang hampir ditiap malamku selalu merindukanmu. Aku yang disetiap detikku selalu memikirkan dan mengingatmu. Dan, hanya aku yang disetiap doaku selalu menyantumkan namamu.
Entah kamu tak tau semua itu atau kamu hanya berpura buta dengan ini semua. Aku ingin menjadi apa yang kamu perjuangkan. Aku ingin menjadi apa yang kau impikan. Dan, aku ingin menjadi tujuanmu. Aku ingin menjadi rumah di mana kamu akan kembali dikala letih mencari, berjalan dan kembali memelukku. Mimpikah aku?? Spertinya demikian. Menyedihkan sekali diri ini. Kamu begitu acuh dengan semua ucap rindu yang aku katakan. Kamu begitu dingin dengan tatap mata yang ingin sedikit saja kamu lihat tulusnya. Ingin sekali aku meraih kedua tanganmu, menatap kedua bola matamu dan mengatakan dengan sangat yakin “sayang, aku begitu menyayangimu dan aku ingin melewati setiap hariku denganmu” namun sadarku takkan mungkin aku mengatakan semua itu padamu. Ingin sekali ku habiskan satu waktu hanya denganmu, menyambut sang mentari dengan senyum bahagia dan menikmati kembali sang mentari tenggelam dengan kedua tangan yang saling menggenggam serta menikmati sisa malam penuh bintang dengan perbincangan kecil untuk melangkah kedepan dan menutup hari dengan sebuah kecupan manis dikening ini. Bahagia rasanya membayangkan itu semua terjadi. Apa keinginan itu terlalu muluk bagimu? Merepotkanmu?
Sayang, jangan biarkan aku berjuang sendiri. Salahkah aku memanggilmu demikian? Begitu lancangnya aku. Mengapa aku begitu sulit melupakanmu sedang kamu begitu mudah mengabaikanku? Mengapa masih ku pertanyakan hal bodoh seperti demikian, jawabannya sudah pasti karna kamu tidak punya perasaan sedalam yang ku rasakan.  Entah tak mampu atau aku yang tak mau untuk melupakanmu. Karna yang aku tau kala aku mencoba melupakanmu ada siksa yang tak dapat aku terjemahkan.

SEBATAS TEMAN

Aku merindukan kehadiran pelangi kala hujan turun. Indahnya berbagai macam warna. Namun sayangnya iu belum ku temukan. Ya!! Nyatanya air mata ini masih sering menetes tanpa sengaja. Aku masih saja menangisi kamu. Masih sangat merindukan kamu. Masih sangat mengimpikan kamu hadir dalam dekapku. Dimana kamu??? Sampai saat ini aku masih belum menemukan kembalinya hadirmu. Aku menganggap dirimu hilang namun tidak dengan perasaanku. Mencoba melupakanmu nyatanya malah membuat ingatan itu semakin terasa nyata. Taukah kamu, setiap malam sebelum tidur aku masih suka membaca pesan singkatmu yang dahulu. Pesan yang masih tersimpan didalam handphone-ku atau memperhatikan manisnya pesan yang sengaja aku screenshot agar aku dapat menjadikannya bukti nyata kamu pernah ada. Aku sangat sadar ini adalah hal bodoh yang seharusnya tidak aku lakukan, tapi ini sedikit mengobatiku akan rindu ini. Rindu yang sudah sangat tidak kamu pedulikan.


Kita hanya teman. Ya!! SEBATAS TEMAN. Pedih. Hanya aku yang merasakan ada kepedihan yang dalam saat membaca dua kata tersebut. Setelah semuanya kita hanya berujung dengan dua kata tersebut. Setelah cukup lama aku menunggu, mendambakan pertemuan, sentuhan nyata dan semua hanya berakhir seperti ini. Aku menginginkan lebih dari ini. Aku inginkan kamu. Kamu yang menggenggam jemari ini dikala aku bimbang. Kamu yang memeluk tubuh ini dikala aku lelah. Dan kamu yang memberikan kecupan dikening dikala aku menitikkan air mata. Itu hanya kan menjadi angan, selalu. 

Rabu, 21 Mei 2014

APA AKU HARUS KEHILANGAN LAGI????

Aku menemui sosok pria dalam hidupku. Dia sosok yang menyenangkan, baik, peduli dan pastinya siap mendengarkan semua keluh kesahku. Aku selalu menceritakan tiap masalahku padanya. Saat aku bahagia, lagi deket sama seseorang, lagi kesel, bahkan patah hati karna kembali jadi korban PHP. Miris. Aku merasa sangat beruntung bisa kenal dengan sosok dirinya. Dirinya yang membuat tenang.

Sampai pada suatu ketika, aku merasa semakin deket. Aku merasa kedeketan yang nggak biasa. Atau mungkin hanya aku saja yang merasa demikian. Sedangkan dia tetap merasa kedekatan yang biasa saja. Hampir setiap waktu aku selalu komunikasi dengannya. Setiap pagi, waktu istirahat kerjaku bahkan waktu aku pulang sampai rumah. Merasa diperhatikan saat hati ini terasa sepi dan sendiri. Dia selalu ingetin hal-hal sederhana, seperti jangan nyelak waktu ngantri parkir (hahahaha....), jangan lupa cuci muka kalau udah sampai rumah dan sewaktu istirahat pesannya jangan kebanyakan makan biar nggak ngantuk. Hal yang sangat sederhana namun berkesan.
Waktu tau dia dateng ke kampus sama cewek, cewek yang dia taksir pastinya. Aku kecewa. Ada perasaan aneh bernamakan cemburu. Rasa ingin marah namun apalah hak aku buat marah. Siapa aku?? Aku mengatakan yang sejujurnya padanya bahwa aku cemburu, bahwa aku merasakan ada perasaan lain yang aku rasain saat itu. Entah perasaan sayang atau hanya suka atau mungkin keduanya. Namun tanggapannya hanya biasa, ia hanya bilang mungkin itu hanya perasaan sesaatku saja. Jika itu hanya perasaan sesaatku mengapa kini aku merasa sangat kehilangan saat tak mendapat kabarnya. Sejak pertemuan pertama itu aku merasa ada yang aneh. Dia tak seperti biasanya. Tak ada pesan masuk seperti hari sebelumnya. Ada apa?? Dimana letak salahku?? Tolong jelaskan dimana letak salahku!! Jangan diam membisu seperti ini. Kamu nggak tau betapa sakitnya menerima sikap dingin dan acuh dari orang yang kita sayang. Terlebih melihat kamu lebih asik dengan yang lain. Aku tak ingin munafik, aku tak suka melihatnya. Iya!! Aku cemburu. Mencemburui kamu yang sama sekali tak menganggapku.

Aku sadar harusnya perasaan ini nggak ada. Aku paham bagaimana mungkin tanah liat menjadi berlian permata yang berkilau. Aku tau diri kamu takkan memilihku diantara mereka. Aku tolol karna membayangkan bisa denganmu. Aku bodoh karna menyangka aku adalah penting bagimu. Aku hanya ingin perasaan ini menjadi nyata bukan menjadi bangkai busuk tanpa arti. Apa aku harus kehilangan lagi??? Setelah kamu yang selalu mendengarkan keluh kesahku, kamu yang selalu menyemangatiku. Haruskah kamu juga yang kini menyakiti dan meninggalkanku????


“aku membuat tulisan ini sembari mengingat bagaimana aku sangat bahagia ketika mendapatkan pesan darimu tanpa terasa aku menitikkan air mata. Aku merindukanmu.....” 

                                                                                                 Inanovelania....

Kamis, 23 Januari 2014

KECEMBURUAN BODOH

Tanpa sebuah petemuan
Tanpa sebuah kontak fisik
Tanpa sebuah suara yang terdengar langsung
Tanpa semua itu aku menyayangimu
                Suatu ketidakjelasan akan kita
                Tidak adanya keterikatan antara kita
                Hingga sebuah ucapan tanpa makna
                Dengan itu semua aku terbang tinggi
Mustahil meluapkan emosi
Melimpahkan kejanggalan dalam benak
Ku tutup rapat tanpa suara

Terkadang aku merasa cemburu

Rabu, 22 Januari 2014

TERPURUK TANPAMU

Entah apa yang kau rasakan pada hati ini. Dan aku pun bingung dengan yang ku rasakan padamu. Katamu kau membutuhkan aku. Katamu aku penting bagimu. Katamu tak mampu kau hidup tanpa ku. Namun ku rasa itu hanya sebuah ucapan yang tak berarti. Ucapan semu tanpa bukti. Walau katamu itu sungguh. Entah kenapa hati ini terkadang masih ragu. Akulah seseorang yang menaruh harapan besar padamu. Akulah seseorang yang mendambakan bahagia bersamamu. Akulah seseorang yang dengan penuh keyakinan menyayangimu.
Memang ku akui diri ini jauh dari kata sempurn . Aku hanya seseorang berusaha menjadi yang terbaik untukmu. Walau kenyataanya tak pernah benar dimatamu. Tak tahu apa yang dapat ku lakukan untuk mendapatkan hati mu itu. Hati yang pernah ku miliki dahulu. Saat ini ku masih dapat melihatmu. Suara mu masih ku dengar. Senyummu masih dapat ku nikmati. Dan, candamu masih sangat menyenangkan untukku . Kenyataan pahit kini kau bukanlah milikku. Dan semua yang kau lakukan untukku tak lagi seistimewa dahulu.
Hati ini terasa perih saat kau ingin mulai menjauh. Meninggalkan senyuman indah itu. Menyisakan suara kedamaian itu. Dan, kini sosokmu tengah beranjak pergi. Tatapan ini kosong menyaksikan hal ini. Kesepian ini di temani oleh tetesan air mata yang membasahi pipiku. Aku membutuhkan pundakmu untukku bersandar. Jarimu untuk menghapus air mataku. Dan senyumanmu untuk menghentikan tangisku. Itu semua hanya angan tanpa kepastian untuk dapat ku alami. Aku seperti bunga yang mendapatkan air terlalu banyak, hingga menjadi layu. Terlalu banyak air mata menetes dan aku pun semakin rapuh. Bukan menjadi kaktus, walau tanpa air akan tetap hidup. Aku berusaha menghadirkan pelangi dalam hidupku. Pelangi yang hadir setelah hujan datang. Sulit rasannya menghadirkan pelangi dan menjadi kaktus.
Maaf jika ku masih mengharapmu. Mengimpikan semua keindahan denganmu. Membangun cerita bersamamu. Mungkin semua itu hanya angan semu. Hanya penyejuk di kala merenung. Hanya secarik khayalan yang membuatku tersenyum. Berharap menjadi nyata namun ku rasa sulit. Kini kau tak mengharapku, melupakan semua kenangan indah yang pernah kita jalani bersama. Terlalu mudah bagimu menghapus semua cerita itu. Bahkan terlalu ringkas untuk kau ingat. Aku terlalu lugu, menunggu dirimu untuk menyatukan hati denganku. Aku tak perduli dengan apa yang di katakan mereka. Aku tak perduli dengan caci mereka. Bahkan aku pun tak peduli dengan logika yang ku fikirkan. Yang aku perdulikan hanya hatiku. Hati yang menunggu kamu kembali untukku. Hati yang berharap kau dapat bersamaku. Hati ini yakin kau akan kembali untukku, jika ku disini untukmu. Walau terkadang aku termenung sejenak, berfikir akan kah semua ini akan ada akhirnya. Bahagia atau akan berakhir sama dengan air mata? Itu hanya renungan sesaat hingga ku mempunyai seribu alasan untuk menguatkan hati ini dan meniadakan seribu alasan yang mengusik hati.
Kini ku mencoba mendalami apa yang ku rasa. Walau nanti ku harus merasakan sakit yang teramat. Setidaknya aku sudah mengikuti prinsip hati ini untuk yakin akan dirimu. Untuk selalu menyayangimu. Untuk setia berada di sisimu. Meski nanti semua yang ku lakukan berakhir dengan kau pergi menghilang dari hadapku. Dan aku pun akan rapuh dan rentan. Entah harapan itu masih tersisa atau sirna. Semua itu hanya waktu yang menjawab. Aku hanya menjalani. Takkan ku coba melawan waktu lagi. Dan aku kan menganggap semua yang telah ku lewati adalah mimpi indah yang hanya akan menjadi mimpi.
Banyak orang berkata, untuk apa menunggu jika seseorang itu tak ingin di tunggu. Dan akupun hanya tersenyum. Tak sedikit pula yang mengatakan cinta itu pengorbanan dan kita harus menunggu dan berusaha. Dan sekali lagi aku hanya dapat tersenyum. Mungkin yang ku lakukan saat ini adalah seseorang yang berpendapat bahwa cinta itu pengorbanan yang membuat kita menunggu dan berusaha. Aku menunggu walau ia tak ingin aku menunggunya. Aku tersenyum walau ia diam. Aku disini walau ia pergi. Bahkan aku bersabar walau ia mengacuhkan diri ini. Terkesan bodoh memang, namun itulah yang ku pilih.
Ada seorang sahabat berkata, jangan kau nantikan jika kau dapat menemukan yang lebih. Salah seorang yang lain pun berkata, untuk apa menyakiti diri sendiri hanya untuk mendapatkan ketidakpastian. Dan, ada pula yang berkata, bahagia nggak harus mengikuti hati terkadang logika pun dapat membuat bahagia. Entah apa yang merasuki diri ini, semua pendapat itu ku acuhkan begitu saja. Hanya mampu ku ucapkan, aku menyanyanginya dan akan ku ikuti hati ini hingga hati ini lelah sehingga logika yang menambil alih.
Jika kehendakmu memberi ku satu kesempatan. Ingin ku perbaiki semua ketidak seimbangan ini. Ingin ku buktikan bahwa diri inilah yang pantas untukmu. Akan ku buat kau beruntung memilikiku. Dan kan ku pastikan aku akan selalu berada di sisimu. Aku dan senyumku menginginkanmu. Ku ingat semua kata indah yang dahulu kau ucap di telingaku. Namun saat ini tak lagi ku dengar semua itu. Meski kau coba patahkan ini takkan henti aku membangun kembali. Tak henti aku untuk meyakinkanmu.
Masih sangat jelas ingatan ku, dahulu ketika kau genggam jemari ini dengan sigap ku lepaskan genggaman itu. Namun kini ketika kau menggenggam jemari ini dan melepaskannya, tanganku berusaha meraih jemari itu dan menggenggamnya seakan tak ingin ku lepaskan. Dan aku harap jemari ini masih dapat merasakan hangatnya genggamanmu. Raga ini masih dapat merasakan hangatnya pelukmu.
Aku di bayangi semua masa lalu mu. Semua kenangan yang pasti takkan mudah kau lupakan dari ingatanmu . Dan, sosok ini takkan mampu menggantikan dirinya. Sampai kapapun mungkin hanya dia yang kau inginkan. Hanya dia yang ada di hatimu. Hati ini menangis bahkan seakan ingin meluapkan semua kekecewaan yang terpendam. Bukankah aku yang saat ini selalu berada di sisimu, bukankah aku yang selalu menyayangimu atas semua sikapmu. Mengapa dia seseorang di masa lalulu yang mendapatkan semua perhatiaanmu, semua curahan hatimu, kasih sayangmu. Aku takkan bisa menjadi dirinya bahkan menjadi bayangannya pun aku tak mampu. Dimatamu dia seperti angin yang dapat merasuki fikiranmu kapan pun itu. Dan aku hanya debu yang dapat tertiup angin kapan pun ketika kau mengingatnya.
Tuhan!!! Hati ini sakit. Aku ingin pergi menjauh, hingga bayangku tak dapat kau lihat dan sosok ku tak dapat lagi menemanimu. Namun semua itu tak dapat ku lakukan. Aku berharap tak memiliki rasa apapun. Rasa cemburu, sakit bahkan mungkin sayang. Sebuah dosa kah rasa ini hingga ini balasan yang ku terima? Aku seperti pejalan yang kehilangan arah. Tak tau jalan mana yang harus ku pilih. Dan aku pun bingung dengan apa yang akan ku lakukan. Aku harus berhenti atau terus berjalan ke arah yang tak ku yakini. Fikiran ku buyar, pendirianku pun hampir rapuh dan hatiku pun melemah. Mungkin memang tak ada harapan lagi yang dapat ku harapkan.

Kita seperti matahari dan bulan. Yang takkan bisa menguasai wilayah dengan waktu yang sama.  Aku seperti matahari, mempunyai sinar yang kuat yang dapat memancarkan cahaya di siang hari. Dan kamu, kamu seperti bulan menguasai malam yang indah.  Sedankan dia, seperti bintang mempunyai kelip yang indah. Tentunya bulan hanya ditakdirkan dapat berdampingan dengan bintang pada malam hari, dan matahari hanya dapat menyambutnya dipagi hari. Tanpa bertemu dengan sang bulan. Mungkin seperti itulah kita. Yang tak dapat bersatu. Kamu bersama dengan dia di kehidupanmu. Dan aku hanya berharap di kehidupanku dapat bersama denganmu. 

Sabtu, 11 Januari 2014

MASA LALU

Aku termenung menatap keluar jendela memperhatikan setiap tetes air hujan yang sejak tadi turun membasahi bumi. Aroma khas tanah yang terkena air hujan begitu terasa. Aku begitu menikmatinya hingga aku pun terhanyut didalamnya. Teringat aku pernah merasakan rintikan air hujan bersamanya. Sudah berapa lama itu?? Mengapa aku masih saja mengingat itu?? Alangkah anehnya hal sebodoh itu bisa membuat aku bahagia. Dan kini seakan aku begitu merindukan hal itu.
Masa lalu!!! Aku merasa dulu aku lebih bahagia. Bahkan sangat. Seakan semua sangat sempurna. Seakan semua waktu begitu tak terasa. Tidak seperti saat ini, kini semua begitu menyebalkan. Bahkan aku sangat ingin mengakhiri semua yang aku lewati. Tak ada semangat seperti sedia kala. Membosankan. Apa ini semua karna aku kini menjalani semua dengan kesendirianku? Sepertinya begitu. Ahhh....Betapa menyedihkannya hidupku. Tapi, bukan hanya aku kan yang menjalani hidup ini dengan kesendirian tanpa adanya pasangan yang selalu menemani keseharian kita. Yang selalu mensupport apa yang kita lakukan. Yang menjaga serta memperhatikan kita. Sudah cukup lama aku menjalani semuanya sendiri dan sampai saat ini aku masih hidup, itu artinya kesendirian bukan akhir dari kehidupan kan?
Entah kenapa belakangan ini aku suka mengingat mantanku. Iya!! Mantan adalah seseorang yang dulu pernah menghiasi hari kita dengan canda tawa, bahagia, gurauan serta tingkah laku yang bodoh. Tapi, mereka juga pernah membuat kecewa, emosi, cemburu serta tangis. Beberapa kali merindukan bagaimana aku dulu bersamanya. Kita semua pasti pernah juga kan mengingat atau bahkan merindukan kenangan sama yang dulu. Jangan bilang kalau hanya aku yang merasa kayak gitu.

Saat ini aku hanya ingin bahagia dengan apa yang terjadi. Mencoba tetap tersenyum meski begitu ingin aku menangis sekencang-kencangnya. Mencoba menjalani meski aku lelah dan ingin mengakhiri semua seperti aku mengakhiri tulisan ini...

AKULAH PEMUJAMU #3

Anganku seakan tercapai. Aku sudah mengetahui nama bahkan mendapati PIN Bbnya. Sangat tidak mungkin aku menyebutkan namanya disini. Entah bagaimana aku mengungkapkan apa yang aku rasakan. Aku bahagia, aku lega dan aku bersyukur. Pada akhirnya apa yang aku ingini sudah aku dapati, meski semua itu aku mendapatkannya dari temannya yang sengaja ku temui saat di parkiran kampus. Apa yang aku niatkan sudah aku lakukan dan sudah kudapati hasilnya.
Aku senang bukan kepalang saat perbincangan pertama ia lakukan dengan chat aku duluan, karna dimulai dari situlah aku dapat berkomunikasi dengannya. Hanya perbincangan ringan saja dapat membuatku seakan melayang ke awan. Namun saat ku ketahui ternyata benar ia sudah mempunyai kekasih, seperti sedang bermain diatas awan dan seketika petir menyambar. Hancur. Seakan jantung ini berhenti berdetak. Nafas ini tersendat. Pemikiran ini tak karuan. Bodoh!!! Bukankah sebelumnya aku sudah tau bahwa ada cincin yang melingkar dijari manis kirinya yang menandakan ia sudah mempunyai kekasih. Lantas mengapa masih saja aku penasaran dengannya dan ingin mengenalnya. “Pasti hubungan yang mereka jalani sudah lama. Sampai ada ikatan cincin seperti itu” fikirku.
Mungkin memang saat ini dan seterusnya aku hanya akan menjadi sosok yang mengaguminya, sosok yang memujanya, sosok yang memperhatikanya dengan perasaan yang kacau berkecamuk. Sudahlah hanya dengan berkenalan saja dengannya sudah membuatku merasa cukup lantas mengapa harus ada pemikiran untuk bisa bersama. Sungguh pemikiran yang sangat jauh dan aku harap segera hilang dalam fikiranku. Mungkin ini akan menjadi cerita terakhirku tentang dia. Dia sosok yang akan selalu menyita perhatianku, menyita pandanganku dan menyita fikiranku.

Aku hanyalah seorang bocah yang ingin lebih mengenalmu. Yang tidak perduli betapa kamu sangat terlihat sombong.