Jumat, 07 Oktober 2016

THREE - PERTAHANAN

Entahlah rasanya percuma aku bersua jika engkau enggan mengerti. Di mana letak dewasamu jika menghindari masalah adalah caramu? Bocah.

Kisah kita bukanlah cerita dongeng, bukan pula cerita teenlit yang selalu aku baca. Kisah kita rumit. Dan, entahlah aku ragu bagaimana akhirnya. Bahagia seperti cerita teenlit yang aku baca atau tragis seperti ketakutanku.

Aku bingung dengan langkah apa yang harus aku pilih. Mempertahankan atau melepaskan. Aku bahkan tidak munafik jika aku belum siap melepaskan. Tak tau denganmu. Aku masih sangat ingin melanjutkan hidup denganmu. Masih sangat ingin berbagi cerita, melihat senyummu, mendengar suaramu, tersenyum mendengar rekaman suara saat kamu bernyanyi untukku. Namun, aku pula aku mempunyai ketakutan yang dalam. Ketakutan akan ada lagi kebohongan-kebohongan lain darimu. Bagaimana kamu tega melakukan itu? Aku yang selalu berusaha jujur dan kamu yang ternyata menutupi kebohongan.

Bukankah dalam suatu hubungan harus ada kata saling. Saling mengerti, saling menghargai, saling meluangkan waktu, saling sayang dan saling percaya. Lantas bagaimana jika kepercayaan itu di salah gunakan?

Hubungan jarak jauh ini semakin mempersulit keadaan. Hanya komunikasi yang dapat di andalkan. Beberapa pertanyaan yang ku ajukan sebelum aku pergi. Ratusan kata yang kau ucap. Hingga akhirnya kita memutuskan untuk melanjutkan hubungan ini dengan keyakinan. Namun yang terjadi sekarang adalah jauh dari apa yang kau ucapkan. Nihil. Kamu tidak meyakinkan diri ini. Kamu tidak membuat aku mempercayaimu. Kamu tidak peduli. Lantas mengapa kamu pilih aku? Jika keperduliaan itu sudah tidak ada. Atau bahkann rasa sayang itu pun sudah memudar. Jika jalani saja seakan tidak ada tujuan. Seakan hanya main-main.

Aku membayangkan bagaimana kamu mempertahankan aku. Kamu terlalu egois untuk tidak menjelaskan dan mempertahankan. Jika sikapmu selalu seperti ini entah bagaimana kedepannya nanti. Aku muak di mana aku merasa hanya aku yang mempertahankan hubungan yang kita jalin berdua. Bukankah kita dua orang yang telah lelah menunggu dan mencari sehingga memutuskan bersama. Sekarang tugas kita hanya mempertahankan atau melepaskan. Kembali membangun kepercayaan atau merobohkan. Semua tergantung padamu. Jika kamu ingin melanjutkan hidup denganku. Hilangkan, jauhkan segala celah untuk adanya orang ketiga.

Jangan sakiti seorang yang telah bersusah payah mempertahankanmu serta menyayangimu tanpa kecuali...


Ina


Rabu, 05 Oktober 2016

TWO - PENGABAIAN

Sudah 24 jam aku tak mendapat kabar darimu. Terakhir kita seperti ini adalah beberapa bulan lalu. Saat kamu menunjukkan betapa egoisnya dirimu. Ahhh kembali terulang. Saat itu kamu dengan tiba-tiba tak memberi kabar, 4hari. Waktu yang cukup membuatku kalang kabut. Aku hanya diam, diam dan diam. Semua berantakan. Tak nafsu makan, kerja berantakan, mendiamkan sekelilingku. Aku bagai mati. Dan, kini kita kembali dalam posisi diam. Masalah yang kamu timbulkan tak kamu padamkan malah kamu abaikan. Bukan kamu selesaikan malah kamu diamkan. Sesekali aku ingin menjadi egois sepertimu yang mendiamkan masalah. Aku takkan memulai. Aku lelah mengalah berulang kali. Kita memang dua manusia dengan isi kepala berbeda. Namun aku kira kita mempunyai tujuan yang sama, mungkin aku salah. Aku yang ingin bersama sedang kamu mungkin ingin sendiri. Aku benci menerka. Bisakah kamu tak seenaknya padaku? Bukankah kamu pun punya hati? Aku ingat beberapa kali aku melihat air mata yang tergenang di kedua matamu. Air mata yang disebabkan karna aku. Yang ku kira air mata takut kehilangan diriku. Karna kamu tak ingin aku menghadirkan orang lain dalam hubungan kita. Aku mencoba meredakannya dengan meyakinkanmu bahwa hanya kamulah yang akan ku sayangi, hanya kamu yang akan ku sebut dalam doaku. Hingga kita kembali memeluk. Namun, mengapa kini seakan kamu menghadirkan orang lain dari masa lalu mu? Mengapa disaat seperti ini tak kamu lakukan apa yang aku lakukan? Mengapa kamu tak meyakinkan diriku bahwa ini hanya salah paham. Seakan apa yang aku terka adalah benar adanya. Apa setelah beberapa bulan ini rasa sayang yang slalu kamu ucapkan sudah hilang, bagai daun yang tertiup angin hilang entah kemana.

Aku hanya manusia biasa yang mempunyai hati yang sedikit rapuh. Hati yang berulang kali kamu uji kesetiannya. Aku tak mudah mempercayai, mengapa kau buang kepercayaan itu? Aku sangat percaya kamu mampu hidup tanpa aku. Apa kini kamu akan melepaskan aku?

Aku tak mudah melepaskan...

Ina...


ONE - KAMU JAHAT

Dingin...

Malam ini aku merasakan dingin yang berbeda dengan malam sebelumnya. Dingin yang teramat. Dingin yang merasuk hingga ketulang. Dingin yang begitu menyiksa. Terlebih karna sikapmu. Aku ingin bertanya di manakah perasaanmu? Sebegini teganya kah? Seharusnya aku sudah tak heran dengan sikapmu. Namun, bagaimana bisa seseorang melakukan kesalahan yang sama berulang kali dan tak merasakan bersalah sedikit pun? Apa hatimu sudah mati? Sungguh aku sangat membencimu. Aku benci keegoisanmu. Aku benci di mana aku selalu mengalah. Dan kau kembali berulah. Dengan santainya kamu menyepelekan. Entah apa yang ada di pikiranmu. Aku benci di buat menangis olehmu. Aku benci di buat resah menunggu kabar darimu, sementara kamu begitu asik saja dengan teman-temanmu. Mungkin jika terjadi hal buruk denganku, kamu adalah orang terakhir yang mengetahuinya. Tak berarti lagi kah aku untukmu? Adakah orang lain yang dapat membuatmu meninggalkanku? Atau mungkin seorang dari masa lalu yang kembali hadir? Siapa yang membuatnya hadir? Dia atau bahkan kamu sendiri yang mengundangnya? Di mana harus ku pegang kepercayaan jika pengkhianatan kau ciptakan? Aku muak jika harus di hadirkan kembali dengan masa lalu. Dan, aku muak dengan ketertutupanmu. Entah, aku yang terlalu lugu bisa kau tipu. Atau mungkin kamu yang dengan lugu menutupi kebohonganmu. Hebat. Dan aku salut.

Entah harus kata apalagi yang ku curahkan. Hati ini terlalu sakit. Tangan ini begitu gemetar. Dan terlebih logika ini tak bisa berfikir kata yang tepat.

Kamu jahat sayang...

Ina