Sabtu, 14 September 2013

DISINI AKU DENGAN RINDUKU

Aku terdiam. Menatap layar ponselku. Berharap namamu tertera menandakan panggilan masuk darimu. Namun semua pengharapan itu seakan mulai pudar. Beberapa hari ini aku tidak satupun mendapatkan kabar darimu. Setelah perdebatan kita saat itu seakan kamu pergi. Seakan kamu memberikan jarak diantara kita. Bahkan aku berfikir kamu hilang dari hidupku. Akupun hanya bisa diam dari tempatku. Aku menahan diri untuk tidak menghubungimu. Meskipun sungguh dalam hati ini ingin sekali mengetahui kabarmu. Bahkan jiwa yang lemah ini ingin sekali berada dalam dekap pelukmu. Hingga pada akhirnya ke-egoisan hati ini pun kalah. Ya!! Aku menghubunginya. Hanya dua kata yang aku sampaikan “Aku kangen”. Aku menunggu balasan darinya, hingga karna terlalu lelah aku pun terlelap dalam tidurku. Seketika aku terbangun, menatap layar ponselku dan aku mendapatkan suatu balasan darimu. Namun kekecewaan datang begitu saja, karna disitu aku hanya membaca satu kata jawaban darinya. Satu kata itu hanya “Iya”. Tanpa terasa air mata ini pun jatuh dengan mudahnya. Aku berharap mendapat balasan lebih dari itu. Berharap dua kata yang aku sampaikan mendapatkan respon berpuluh-puluh kata darinya. Namun ternyata hanya itu yang aku dapatkan.
Keesokan harinya aku pun memberanikan diri mengiriminya sebuah pesan lagi. Namun kali ini hanya bisu. Tak ada jawaban apapun darinya. Aku lemah. Aku kehabisan cara. Kini aku hanya diam dan diam menantikan dirinya. Mungkin kembali atau mungkin tidak.
Kamu mengatakan aku mempunyai sifat keras begitu pun dirimu. Sepertinya kamu benar, kamu keras untuk mengabaikan perasaan ku ini. Sedang aku begitu keras untuk mempertahankan perasaan ini. Satu sifat hanya berbeda bagaimana menjalankannya. Aku hanya berharap kamu selalu baik-baik saja. Selalu jaga kesehatanmu.
Jika nanti nyatanya pilihanmu bukanlah pada diriku. Jagalah orang itu sebaik mungkin seperti ucapmu yang akan menjagaku. Bahagiakan dia seperti kamu pernah membahagiakan aku. Aku disini selalu berharap yang terbaik untukmu. Aku disini tidak pernah sedikitpun membencimu. Aku disini hanya bisa membaca ulang pesan-pesan darimu yang masih tersimpan di ponselku. Memandangi fotomu yang masih sengaja ku simpan di galeri ponselku. Aku disini merindukanmu dan berharap kamu datang walau hanya untuk sekedar memeluk tubuh yang lemah ini. Mendekapnya dengan hangat. Ya!! Aku selalu mengimpikan hal itu terjadi.
Maafkan aku. Mungkin karna ke-egoisan ku yang menyebabkan kini kamu menjauh. Maafkan aku.

Aku dari tempatku dimana pun selalu memikirkanmu. Walau aku tau kamu begitu sibuk dengan kehidupanmu tanpa memperdulikan aku. Tanpa memperdulikan berapa banyak tetes air mata yang disebabkan karenamu. Aku merindukanmu. 

my twitter -->> @inanovelania

Selasa, 10 September 2013

KITA INI APA???

“Sebenarnya kita ini apa?” Pemikiran itu yang kini menyita fikiranku saat ini. Aku pun rak mengerti dengan apa yang aku fikirkan. Memang apa yang aku inginkan. Bukankah sebelumnya aku nyaman dengan ketidakjelasan seperti ini lantas mengapa sekarang aku mempunyai fikiran seperti itu. Pentingkah sebuah status?? Kite pernah membahas hal ini namun kita tlah sepakat bahwa kita belum siap untuk hubungan lebih terikat. Bahkan entah mengapa sekarang aku ragu perasaanmu untukku masih kau simpan. Atau mungkin kini kau telah memberikannya pada seseorang yang lebih pantas kau berikan. Sebuah rasa yang tak ku mengerti berasal dari mana dan sejak kapan. Aku merasa semua perhatianmu tak sepenuhnya kamu kasih buat aku. Aku merasa memang kamu begitu perhatian terhadap semuanya. Apa hanya aku yang merasa sedemikian tersiksa seperti ini?? Kamu tidak?? Apa sekarang hanya aku yang mempunyai perasaan ini? Sedangkan kau tidak.
Salahkah jika aku ingin bersamamu. Salahkah jika aku ingin menjadi yang lebih di perhatikan olehmu. Salahkah jika aku ingin hanya aku yang engkau sayangi, yang selalu kau jaga dan takkan kau biarkan air mata ini menetes karenamu. Apa semua itu suatu kesalahan??? Bukankah kita takkan pernah tau jika kita tidak mencobanya. Mencoba untuk menjalani hubungan berdua dengan didasari sebuah perasaan yang tulus dan sebuah kepercayaan.
Memang sebelumnya aku tidak pernah merasa cemburu denganmu. Aku masih sangat menganggap semua hanya hal biasa. Tapi, untuk saat ini aku merasa ada sebuah perasaan kesal serta sesak yang menyelimuti ketika melihat perbincangan ringanmu dengan seorang gadis lain. Meski itu hanya di sebuah jejaring sosial, hanya saja itu cukup membuat aku menghela nafas lemas serta terbesit pertanyaan “Apakah aku cemburu?”. Dan ku rasa itu benar. Ya!!! Aku cemburu dengan hal sepele itu.
Kini aku takut kamu menjaga jarak denganku. Aku begitu takut tak mengetahui kabar darimu lagi. Aku begitu takut kehilanganmu.....

Aku menyayangimu entah dari kapan aku mulai merasakan itu........



my account twitter  : @inanovelania



CINTA & SAHABAT

Aku bingung dengan semua yang terjadi saat ini. Bahkan entah harus dari mana aku memulainya. Awalnya aku hanya ingin sekedar bercanda dengannya. Panggil lah ia Dikta. Namun entah mengapa aku jadi ingin memperhatikannya secara lebih. Aku ingin menjadi seorang yang ia percayai untuk menampung setengah masalahnya. Ia seorang yang sangat sulit untuk ditebak, sulit untuk dimengerti. Dan entah bagaimana aku harus memahaminya. Ia begitu peduli dengan keadaan sekitar terkecuali keluarganya. Ya!! Ia sangat tidak bersahabat dengan keluarga. Alasan apa yang membuatnya seperti itu aku pun tak tau. Seakan ia sangat membenci keluarganya. Dan lancangnya aku seakan ingin menjadi orang yang berarti dalam hidupnya. Mustahil memang, karna ia saja bahkan tak peduli dengan hidupnya. Aku ingin membuatnya mengerti betapa indah hidup ini. Namun memang siapalah aku?? Aku bukanlah motivator yang dapat memberikan motivasi untuk hidup seseorang. Aku pun bukanlah seseorang yang hidupnya patut untuk di contoh. Aku hanya ingin sedikit bisa memahami keinginannya. Meski itu sulit akan ku coba.
Berawal dari rasa hanya ingin memahami keinginannya seakan tumbuh perasaan lainnya. Entah perasaan apa ini aku pun tak mengerti. Hingga aku sadar mungkin aku beranjak menyayanginya. Benarkah ini??? Bukankah aku menyukai seseorang bernama Fian.  Seseorang yang cuek yang takkan mempunyai rasa yang sama untukku. Seseorang yang hanya akan menganggapku bukan hal penting. Dan aku akan bersiap diri jika waktu aku dan dia akan di pertemukan. Entah kapan itu??

Dan aku menyadari satu hal. Sahabatku Icha, dia menyukai Dikta. Karna memang aku, Icha dan Dikta adalah teman dari kita masih duduk dibangku SD. Saat aku menyadari itu aku semakin bingung dengan apa yang harus aku lakukan. Aku hanya mencoba menyatukan mereka. Namun setiap aku membahas Icha dengan Dikta ia langsung enggan membahasnya. Sampai pada akhirnya aku bertanya langsung dengan Dikta, bagaimana perasaan Dikta terhadap Icha. Tak banyak yang Dikta ucapkan ia hanya menjawab bahwa perasaannya terhadapa Icha adalah biasa aja. Dan, aku sekedar iseng menanyakan bagaimana perasaanya terhadapku. Terkejutku dengan jawabannya, ia menjawab “Boleh aku izin buat sayang sama kamu?”. Aku terdiam seakan tubuh ini beku dengan sendirinya. Hanya perasaan Icha yang aku fikirkan saat itu. Aku rasa Icha menyadari kedekatan aku dan Dikta bukanlah kedekatan biasa. Namun aku seakan mengingkari semua ini. Aku menjalani semua ini dengan perasaan biasa saja. Sampai pada akhirnya aku menyadari aku mulai menyayanginya lebih dari seorang teman...