Aku terdiam. Menatap layar
ponselku. Berharap namamu tertera menandakan panggilan masuk darimu. Namun
semua pengharapan itu seakan mulai pudar. Beberapa hari ini aku tidak satupun
mendapatkan kabar darimu. Setelah perdebatan kita saat itu seakan kamu pergi. Seakan
kamu memberikan jarak diantara kita. Bahkan aku berfikir kamu hilang dari
hidupku. Akupun hanya bisa diam dari tempatku. Aku menahan diri untuk tidak
menghubungimu. Meskipun sungguh dalam hati ini ingin sekali mengetahui kabarmu.
Bahkan jiwa yang lemah ini ingin sekali berada dalam dekap pelukmu. Hingga pada
akhirnya ke-egoisan hati ini pun kalah. Ya!! Aku menghubunginya. Hanya dua kata
yang aku sampaikan “Aku kangen”. Aku menunggu balasan darinya, hingga karna
terlalu lelah aku pun terlelap dalam tidurku. Seketika aku terbangun, menatap
layar ponselku dan aku mendapatkan suatu balasan darimu. Namun kekecewaan
datang begitu saja, karna disitu aku hanya membaca satu kata jawaban darinya. Satu
kata itu hanya “Iya”. Tanpa terasa air mata ini pun jatuh dengan mudahnya. Aku berharap
mendapat balasan lebih dari itu. Berharap dua kata yang aku sampaikan
mendapatkan respon berpuluh-puluh kata darinya. Namun ternyata hanya itu yang
aku dapatkan.
Keesokan harinya aku pun
memberanikan diri mengiriminya sebuah pesan lagi. Namun kali ini hanya bisu. Tak
ada jawaban apapun darinya. Aku lemah. Aku kehabisan cara. Kini aku hanya diam
dan diam menantikan dirinya. Mungkin kembali atau mungkin tidak.
Kamu mengatakan aku mempunyai
sifat keras begitu pun dirimu. Sepertinya kamu benar, kamu keras untuk
mengabaikan perasaan ku ini. Sedang aku begitu keras untuk mempertahankan
perasaan ini. Satu sifat hanya berbeda bagaimana menjalankannya. Aku hanya
berharap kamu selalu baik-baik saja. Selalu jaga kesehatanmu.
Jika nanti nyatanya pilihanmu
bukanlah pada diriku. Jagalah orang itu sebaik mungkin seperti ucapmu yang akan
menjagaku. Bahagiakan dia seperti kamu pernah membahagiakan aku. Aku disini
selalu berharap yang terbaik untukmu. Aku disini tidak pernah sedikitpun
membencimu. Aku disini hanya bisa membaca ulang pesan-pesan darimu yang masih
tersimpan di ponselku. Memandangi fotomu yang masih sengaja ku simpan di galeri
ponselku. Aku disini merindukanmu dan berharap kamu datang walau hanya untuk
sekedar memeluk tubuh yang lemah ini. Mendekapnya dengan hangat. Ya!! Aku selalu
mengimpikan hal itu terjadi.
Maafkan aku. Mungkin karna
ke-egoisan ku yang menyebabkan kini kamu menjauh. Maafkan aku.
Aku dari tempatku dimana pun selalu memikirkanmu. Walau aku
tau kamu begitu sibuk dengan kehidupanmu tanpa memperdulikan aku. Tanpa memperdulikan
berapa banyak tetes air mata yang disebabkan karenamu. Aku merindukanmu.
my twitter -->> @inanovelania