Rabu, 14 Oktober 2015

JIKA BUKAN AKU

Jika memang bukan aku yang kamu inginkan kenapa harus aku yang mendapati kabar darimu setiap harinya. Jika memang bukan aku yang akan menjalani hari bersamamu kenapa harus aku yang mendapati kata manis darimu. Jika memang bukan aku yang ada dihatimu kenapa harus aku yang mendapati perhatianmu.
 Atau mungkin semua yang kamu lakukan kepadaku kamu lakukan pula untuk yang lain, yang padahal katamu hanya aku yang mendapati pesan darimu. Apa kamu terlalu mahir dalam berucap atau aku yang terlalu lugu untuk percaya semua katamu. Ini waktu yang sangat singkat, sangat singkat. Seperti hujan di siang hari. Begitu mengagetkan. Kamu itu teka-teki di mana aku tidak tau bagaimana memecahkannya, seperti ingin kemudian tidak. Kamu itu labirin di mana aku tidak tau jalan keluarnya. Aku tersesat.
 Bagaimana bisa hanya karna seorang “kamu” aku harus kembali menitikkan air mata? Bagaimana bisa hanya karna seorang “kamu” aku sampai dibuat kalang kabut seperti ini? Bukankah aku pernah tidak menyukaimu lantas mengapa kini aku menangisimu. Bukankah aku pernah menganggapmu hal yang biasa tapi, mengapa sekarang aku begitu memperdulikanmu. Bodohkah aku yang sekarang seolah memasuki jurangku sendiri. Bodohkah aku yang saat ini begitu terhanyut oleh semua kata-katamu.
Aku pernah mendengar banyak kabar miring akan dirimu, dan pada saat itu aku pastikan takkan pernah aku sampai jatuh hati kepada seorang sepertimu. Namun kini aku seakan termakan oleh omonganku sendiri dan menutup telinga dari berbagai sudut manapun yang berucap buruk tentang kamu. Namun kini aku tau  satu hal, nyatanya bukan aku yang kau inginkan. Bukan aku yang kau pilih sedari awal. Ada orang lain yang kau harapkan, ada dia yang kau impikan dan bukan aku.
Katamu kamu tak pantas untukku dan berharap ada orang lain di luar sana yang lebih dari dirimu. Lantas orang seperti apa yang pantas untukku. Adakah alasan yang lebih baik dari itu. Mengapa tidak kamu katakan saja bahwa kamu tengah menyukai orang lain. Bagaimana kamu tau pantas atau tidaknya kamu untukku? Dan, bagaimana jika bukan orang lain yang aku inginkan melainkan kamu yang aku inginkan.

Cinta tidak dapat dipaksakan, dan aku tak mungkin mengemis agar kamu bersamaku. Tidak!! Aku tidak akan melakukan itu. Aku hanya ingin menjalani hariku dengan seseorang yang suka rela menjalaninya bersamaku bukan lantaran belas kasian atau pun terpaksa. Jika memang ada yang lain yang kau harapkan, aku hanya dapat berdoa semoga kamu segera mendapatkannya. Akan ku doakan yang terbaik untukmu. Biarlah kini aku mengatasi sendiri akan aku apakan perasaan ini. Singkatnya fikiranku karna aku kira kita akan bersama. Singkatnya fikiranku karna aku kira kamu memiliki rasa yang sama dengan yang aku rasakan. Singkatnya fikiranku karna aku kira cinta datang secepat ini dan aku tak ingin menyesal karna lama menyadarinya. Maaf. Aku minta maaf. Maaf karna aku terlalu cepat menyimpulkan. Menyimpulkan bahwa kedekatan kita ada yang lain. 

TAK PANTAS UNTUKMU

Aku sangat tidak sepadan untukmu tuan. Aku bukanlah seorang gadis cantik seperti mereka. Aku bukanlah seorang gadis dengan pakaian mewah seperti mereka. Aku hanyalah seorang gadis manja yang terpaksa kerja karna tuntutan ekonomi. Aku hanyalah seorang egois yang mempunyai banyak keinginan. Aku tidak pantas untukmu. Kamu terlalu sempurna bak pangeran di cerita dongeng yang mencintai gadis disebuah perkampungan. Aku tidak ingin kamu malu lantaran berjalan berdampingan denganku. Aku tidak ingin kamu mendengar banyak caci maki lantaran kamu memilih aku. Aku tidak ingin. Aku sangat sadar akan diriku. Siapa aku? Bagaimana keluargaku? Aku tidak ingin kamu terbebani karna masalahku.
Sudahlah, cari saja yang lebih baik dari aku. Bukan maksudku untuk mengusirmu. Aku hanya memikirkan apa aku bisa jadi yang terbaik untukmu kelak. Atau mungkin sebaliknya. Sebelumnya kita memang tidak saling mengenal jadi ini bukanlah hal sulit untuk kita agar saling melupa, bukan begitu. Carilah gadis yang akan kamu panggil dengan panggilan sayang. Dan itu bukanlah aku. Carilah gadis yang akan menerima segala kelemahanmu, keluh kesahmu, amarahmu dan bahagiamu. Carilah ia sebagai gadis yang kamu rela memberikan segalanya untuknya. Gadis itu bukan aku.

Aku tidak menyalahkan cinta. Aku hanya mempertanyakan bagaimana cinta bisa datang disaat pertemuan pun belum terjadi. Aku tidak bisa secepat itu menerima. Aku bukannya tidak percaya akan ketulusanmu. Aku hanya belum bisa menerima sesuatu yang terjadi tanpa proses. Mungkin bisa saja kamu bukan mencintaiku, kamu hanya sekedar menyukai atau bahkan hanya sekedar terhanyut oleh hawa nafsumu sendiri. Sebab cinta yang ku tau tidak seperti ini. Cinta yang ku tau adalah cinta yang mengalami proses saling mengenal, saling memahami, saling mengerti, saling perhatian. Proses yang lama untuk menyadarkan bahwa itu adalah perasaan cinta. Aku bukan tidak mencintai hanya saja aku belum bisa mencintaimu. 


follow my account twitter  -->  @inanovelania

Jumat, 28 Agustus 2015

MASIH KAMU DAN KAMU

Aku masih dalam pikiran yang sama. Kamu, dan kamu. Begitu banyak yang singgah namun hanya kamu yang menetap. Hanya saja ada yang berbeda. Kini “Kita” hanya sebatas aku dan kamu. Kita masih suka menghabiskan waktu bersama namun tidak menjalani kehidupan bersama. Beberapa kali ku ketahui kamu tengah menggenggam tangan seseorang. Kamu mempunyai pilihan sendiri akan siapa yang menjadi kekasihmu. Dan itu bukan aku. Kita hanya masa lalu yang mungkin samapai saat ini tidak melepaskannya begitu saja, atau itu hanya dalam fikiranku saja. Taukah kamu ada sedikit luka yang ku rasakan saat mengetahui kamu tengah menjalin hubungan dengan seorang gadis. Aku selalu mencoba bahagia dihadapanmu. Selalu berharap ia gadis yang tepat dan tak kau lukainya. Tidak hanya menjadi pelampiasanmu saat kau jenuh. Iya!! Aku merasa mendjai pelampiasanmu saja. Kamu hanya mencari ketika ia tak bisa menemanimu. Kamu hanya datang ketika ia sibuk. Kamu hanya sekedar datang tidak untuk menetap. Tidak akan. Kisah yang lalu takkan terulang kembali.

Entah perasaan apa ini. Apa mungkin perasaan yang dulu ternyata masih tersimpan dengan rapih di dalam hati ini. Atau mungkin aku terlalu nyaman denganmu. Terlalu sering bersamamu. Terlalu mengandalkanmu. Terlalu mengerti akan kamu. Kamu yang masih saja belum bisa menetapkan satu nama pada hatimu. Kamu selalu berpindah dan saat ku tanya mengapa kamu mengakhiri hubungan dengan gadis itu kamu akan menjawab jawaban yang sama. Mungkin nggak cocok, masih mau nyari, selalu itu jawabanmu. Aku hanya tersenyum mendengarkan jawabanmu. Dalam hatiku jujur berkata “ada aku yang selalu di sampingmu”. Carilah bahagiamu, mungkin bukan denganku kamu merasa bahagia. Mungkin bukan aku yang menjadi pilihanmu. Tapi, dengan siapapun kamu doa baik dariku selalu menyertaimu sayang. Aku hanya membenci diri ini yang seakan belum bisa mengikhlaskanmu. Masih sangat ingin menjalani hari seperti dulu bersamamu. Karna hanya denganmu aku merasa nyaman, merasa kesederhanaan bisa membuat bahagia sejadinya. Tak lupa denganmu ada juga kecewa yang membuat luka separahnya. 

Senin, 22 Juni 2015

WAKTU

Waktu jahat yaa. Iya aku bilang waktu jahat. Kenapa??? Karna waktu membiarkan jarak ini semakin terasa. Karna waktu membuat sikap menjadi acuh, dingin dan asing. Kita pernah tertawa sangat lepas bersama. Kita pernah menghabiskan waktu yang berharga hanya dengan bermain game. Bahkan kita pernah dengan waktu yang cukup larut kita masih bersama hanya untuk mencari pengisi perut (hehehehe). Sekarang semua hal yang pernah kita lakukan hanya dapat ku ingat tanpa kita ulang kembali. Aku diam dan diam. Aku diam dalam keterasinganmu. Aku membisu dalam harap. Oh Tuhan, aku ingin mengulang semua itu. Semua yang nyatanya hanya kesementaraan saja. Kenapa bahagia secepat ini berlalu?? Mengapa dengan bodoh hanya aku yang berharap waktu dapat dengan baik hati mengulang semua. Sudahlah, kini waktu sudah terlalu jahat. Kenapa bisa waktu jauh membawa kita dalam asing? Bagaimana bisa waktu membuat luka sepedih ini? Namun mengapa waktu tidak membuat aku lupa akan ini? Aku masih mengingat. Aku masih berharap. Aku tidak lupa. Bahkan tidak ingin. Sejahat waktu aku berterima kasih karna engkau telah sempat mengukir tawa meski kini harus dengan air mata aku menertawakannya...

Kamis, 14 Mei 2015

KAMU DAN RINDU INI

Hampir satu minggu atau bahkan lebih, aku merasa ada yang aneh pada dirimu. Tidak seperti dirimu yang biasanya. Rasanya asing. Rasanya jauh. Dalam hati aku selalu bertanya “Ada apa ini? Apa yang salah?”. Namun sepertinya atau pastinya hanya aku yang merasakan ke anehan ini. Kamu?? Kamu terlihat biasa saja.

Apa kini kamu ingin aku menjauh darimu?? Berhenti mengganggu hidupmu. Berhenti memberikan perhatian yang tak kau butuhkan dariku. Memaksaku mengenyahkan perasaan ini. Jangan. Aku mohon jangan paksa aku melakukan apa yang aku tidak ingin lakukan, jangan paksa aku melakukan apa yang belum siap aku terima. Aku sama sekali belum siap kehilangan sosokmu. Tidak akan pernah ingin. Iya!! Aku memang tidak pantas menyebut ini kehilangan, karna memilikimu saja tidak. Namun tetap saja aku akan merasakan demikian. Sama halnya dengan aku merasakan cemburu luar biasa padahal aku bukanlah kekasihmu. Bodoh!!! Melihat satu nama yang menghiasi kontakmu saja membuat aku cemburu. Dan ku dengar hubungan kalian mulai membaik, apa sekarang saatnya aku pergi??

Apa yang harus aku lakukan?? Jelaskan padaku!!! Apa aku harus menyerah dengan perasaan ini? Apa perasaan ini tidak pantas untuk di perjuangkan? Apa aku harus mengubur semua harapan dan angan tentangmu?? Aku tidak ingin!!! Demi apapun aku tidak ingin melakukannya. Aku selalu takut ini akan terjadi. Ketika kita tak lagi bersapa, kita menjauh, kita tak lagi tertawa bersama, tak lagi mendengarkan lagu bersama. Dan, aku takut ketika aku tak bisa lagi melihatmu, tak bisa lagi merasakan jemarimu, tak bisa lagi di rangkul olehmu. Aku takut. Walau aku tau lambat laun aku akan mengalami itu semua.

Aku merindukanmu. Teramat. Terasakah itu semua padamu. Entah harus ku gunakan trik macam apa agar aku bisa bertemu denganmu. Rasanya sekarang sangat sulit untuk bertemu denganmu. Yang ku lakukan setiap malamnya adalah memandangi fotomu yang tersimpan di galeri ponselku. Berbicara pada ponselku seolah kamu berada di hadapanku. Memang terlihat gila dan seketika memecahkan jutaan air mata yang menggenang akibat menahan rindu. Walau aku tau aku merindukan seseorang yang sama sekali tak pernah merindukanku. Iya!! Kamu tak pernah sedikit pun merindukanku, kamu merindukannya. Dia kekasihmu yang jauh di sana. 

Maafkan aku yang terlanjur nyaman denganmu. Maafkan aku yang mempunyai harapan bersamamu. Maafkan aku yang kini tengah menyayangimu dan sangat merindukanmu....


“Setiap malam doaku adalah agar aku selalu bahagia melihat kamu yang dibahagiakan oleh seorang yang bukan aku. Tiada satu malam terlewat sebelum ku terpejam dengan menyebut namamu, berharap kamu selalu hadir dalam mimpiku.” 

Sabtu, 02 Mei 2015

KAMU DALAM TANYAKU

pertanyakan. Bagaimana perasaanmu? Bagaimana jika kamu yang jadi aku? Semuanya. Gemuruh dalam kepala semakin memuncak. Aku tak dapat berfikir logika. Semua terasa mati. Hanya logika ku yang mati tidak hatiku. Aku mencaci diriku setiap harinya, "Mengapa aku sampai jatuh hati padamu???". Dalam diamku yang begitu ketakutan akan kehilanganmu, kehilangan yang bahkan memiliki saja tidak. Tuhan, mengapa kau hadirkan aku rasa tapi, tidak mengizinkan aku bersamanya?? Katakanlah aku egois yang begitu ingin mencicipi hidup denganmu. Katakanlah aku iri yang begitu ingin di perhatikanmu seperti dia. Bodoh. Harus ku apa kan hati ini?? Harus aku bagaimana kan perasaan ini?? Dan, apa yang harus ku lakukan dengan harapan serta angan ini??? Andai bisa dengan mudah ku bakar atau ku buang mungkin sudah ku lakukan sejak awal ku merasakannya. Tapi, perasaan ini bukanlah secarik kertas yang dengan mudah ku buang.  Perasaan ini adalah hati yang menyayangimu. Sebut saja kini aku pelampiasanmu, aku yang berusaha selalu ada untukmu. Sebegitu hinanya kah aku hingga menyayangimu adalah suatu kesalahan. Baiklah!! Biarkan aku hidup dalam kesalahanku. Biarkan aku mati karna perasaan yang menggrogoti ku setiap harinya. Mungkin sabarku kurang. Mungkin aku masih harus banyak belajar. Terlebih mungkin kesadaranku sangat lancang. Maafkan aku yang begitu lancang menyayangimu bahkan menaruh harap padamu. Aku menyayangimu.

Jumat, 24 April 2015

KAMU YANG AKU PERJUANGKAN

Sampai saat ini aku masih meyakini apa yang hatiku inginkan. Aku masih sangat menjaga apa yang harapkan. Namun, selayaknya perahu yang tengah berlayar di tengah lautan dan tersambar ombak yang besar. Itu yang aku rasakan. Beberapa hari ini aku memikirkan hal yang sama. Kamu. Bodoh memang, untuk apa aku memikirkanmu. Namun semakin aku berusaha menghindar semakin daya ingat ini terus menarik ke arah mu. Seakan semua tentangmu begitu menarik untuk ku ketahui. Iya, semua. Termasuk tentang bagaimana hubunganmu dengannya. Aku mendengarkannya hampir disetiap malamku. Ada dingin yang begitu saja merasuk. Ada hening yang begitu saja hinggap. Ada tangis yang begitu saja ingin ku luapkan namun lebih ku tahan. Ada sakit yang entah bagaimana aku deskripsikan saat kamu ceritakan bagaimana sikapnya kepadamu. Yang katamu ia mengesampingkanmu walau katanya kamu adalah masa depannya. Aku sakit mendengarnya. Bagaimana bisa ia mengacuhkanmu sedang ada aku yang begitu mendambakan kebersamaan denganmu. Ada aku yang tengah berjuang mendapatkan hatimu, yang dengan jahatnya ingin melepaskan genggaman tangannya dari tanganmu. Ada sakit yang tak kamu ketahui saat kamu mengatakan padaku "Coba bayangkan aku yang udah capek, mata udah ngantuk tapi, kamu tetep nanggepin bbmnya dan jadi asik." Percayalah aku pernah mengalami hal serupa saat denganmu. Ku biarka  kedua mata ini tetap terjaga meski terkantuk untuk berkomunikasi denganmu. Karna aku tidak ingin melewatkan waktu. Semua waktu ku berharga jika ku habiskan karenamu. Bahkan kini aku tengah membuang waktu ku untuk menunggumu, tenanglah aku punya begitu banyak waktu untuk ku buang begitu saja jika itu karenamu. Sampai hati ini lelah menanti. Aku takkan memaksamu meninggalkannya. Takkan pernah ku lakukan itu. Biarkan saja hati kecilmu yang menentukan pada siapa kamu akan menjalani harimu. Dengannya yang begitu sulit memberi waktu untukmu atau denganku yang begitu suka rela membuang waktu untukmu, denganmu.

Rabu, 08 April 2015

PERIHAL HATIKU

Aku hanya ingini bahagia. Dan, Tuhan tidak pernah bercanda saat memberi tawa bahagia pada umatnya. Ku ucapkan syukur tiada tara. Hati yang mungkin tlah lama mati kini telah bernyawa kembali. Aku yang telah lama tidur kini telah tersadar. Layaknya putri tidur yang bangun lantaran mendapati sebuah kecupan dari sang pangeran. Aku mendapati sadarku dari tamparan kata-katamu. Hebatnya kamu. Berjuta kata yang terucap dari mulutmu membuatku diam mematung. Tak ada kata yang tepat untukku menjawabnya. Bukankah aku selalu mengelak saat orang lain berbicara tapi, denganmu aku bagai anak kelinci yang di hadang sang singa. Hanya diam.
Tuhan, aku mengucap syukur atas semua yang telah engkau beri padaku. Tapi, Tuhan tidak kah engau bercanda atas perasaan yang kau beri padaku ini. Perasaan apa ini?? Nyaman dengan keberadaannya. Tenang dengan tatapannya. Tatapan yang begitu teduh. Membuat luluh saja. Tidaaak Tuhan! Jangan dia. Aku tak ingin kehilangannya lantaran aku mempunyai rasa terhadap seorang yang telah memiliki kekasih. Hubungan yang telah mereka jaga dan aku hanya singgah sebentar. Mungkin hanya waktu, waktu yang mengantarkanku pada masa di mana aku harus melenyapkan semua yang tak ku harapkan. Bukan aku tidak bersyukur karna bertemu dengannya. Aku sangaaat bersyukur dapat mengenal bahkan mendapati perhatiannya. Aku hanya tidak siap jika harus kehilangan itu semua.
Ini perihal hatiku. Biar saja aku yang bertanggung jawab penuh atasnya. Tawa, bahagia atau bahkan tangis sekalipun, aku terima.

Senin, 23 Februari 2015

TERNYATA

Kamu tau balon yang tertiup angin tanpa arah? Ia tertiup jauh karna tak ada batu atau semacamnya untuk menahannya ditanah. Seperti itu aku. Kala aku tertiup bebas di udara seketika aku terhenyak jatuh ke tanah karna batu yang menahanku. Ada gemuruh ricuh dalam otakku. Pertanyaan bodoh macam apa yang dapat menghenyakkan jantung ini. Seakan ia bagai mesin yang seketika ditekannya tombol off dan mati begitu saja. Aku bagai bocah yang kamu rayu dengan sebuah lolipop setia disampingmu namun saat ku pinta lolipop itu hanya sebuah senyum yang kau berikan. Manis.

Kamu membuatku cinta dengan beribu kata manis yang kau utarakan. Kamu membuatku cinta dengan semua perlakuanmu yang membuatku bagai seorang putri kerajaan. Kamu membuatku melayang bebas menikmati rayuanmu. Ucapan sayangmu. Ahhh aku terlena. Tak bosan aku membaca semua pesanmu kembali sebelum aku terpejam. Hanya membuatku yakin ini bukan mimpi. Setiap pagi, kala ku membuka mata sudah ku dapati sebuah pesan manis darimu. Membuat langkah semangat disetiap pagiku. Membuat guratan senyum yang melingkar menghiasi pagiku.

Seperti tertombak saat berburu. Saat ku tau kita tidak dalam status yang orang sebut "pacaran". Jantung ini seakan berhenti. Hening. Sunyi. Tetiba saja dingin merasuki tulang rusukku. Namun entah malaikat mana yang merasuki. Entah mantra apa yang kamu tuang dalam setiap ucapanmu. Aku percaya padamu bahwa ini bukan perihal karna wanita lain. Dan kamu yang juga percaya padaku, membebaskan aku jika ada yang lain. Namun aku terlalu lelah mencari. Aku ingin disini bersamamu, duduk manis menunggu kesiapanmu bahagia denganku. Jika ada perangkai kata semaut dirimu, mungkin saja. Dikecewakanmu saja aku bahagia. Kamulah jurang di mana aku rela terlempar sesering mungkin

Selasa, 17 Februari 2015

KU TEMUKAN KAMU

Matahari pagi sudah ku temukan. Aku merasakan lagi hangatnya. Merasuki tulang. Sejuk embun masih ku rasa. Sepanjang perjalanan aku hanya tersenyum. Mengingat kembali hari-hari kemarin yang aku takkan lupa. Tidak! Aku tidak bertemu dan melakukan hal bersama dengannya. Hanya sebuah pesan. Hanya itu dan membuat aku terbang melayang. Aku harap tidak kau jatuhkan aku.

Aku kembali merasa jatuh cinta. Merasa deg-degan lagi. Merasa pipi ini begitu berseri merah merekah kala mendapati pesanmu. Ahhhh ini gila. Pada satu malam kita dalam percakapan  yang cukup gila. Kita berbincang akan saling memiliki.  Apa ini?? Apa status pertemanan kita akan berubah menjadi status pacaran?? Yakinkah kamu??

Kamu berkata jujur akan apa yang kamu rasakan. Ingin bersamaku. Ingin memilikiku. Dan ingin sebuah pertemuan. Kita memang sudah tak lama bertemu. Berapa lama yah?? Mungkin setahun lebih. Cukup lama. Aku ingin bertemu denganmu. Sangat ingin. Dan, pada saatnya sebuah pertemuan yang kita dambakan itu hadir kamu hanya berkata "Ciee akhirnya ketemu juga" aku hanya tertunduk tersipu malu dan bahagia. Berada didekatmu dengan waktu seadanya. Karna esok kita akan kembali melewati hari tanpa tatap langsung, tanpa sebuah genggaman dan hanya kata rindu yang dapat kita sampaikan dalam sebuah pesan atau percakapan kita.

Aku harap jarak ini hanya jembatan kecil tanpa halangan yang besar. Membuat kita tetap percaya akan bahagia bersama. Akan ikatan saling memiliki. Jalani saja dengan keyakinan kita. Semoga Tuhan meng-Amin-kan semua doa kita.

Surat ini harusnya ku posting dua hari yang lalu. Karna sibuk harus ku tunda. Surat untuk seseorang dengan akun twitternya @wahdoy_

Minggu, 15 Februari 2015

BAHAGIAKAN DIA

Kita mengenal setahun yang lalu. Berawal hanya dari chat biasa. Lambat laun kita seperti ada kerterikatan. Saling memberi kabar. Ada bahagia sendiri saat berkomunikasi denganmu. Senyum-senyum geli aku mengingatnya. Hanya memandang fotomu saja membuat aku gila.

Taukah kamu ada perasaan nyata yang timbul dalam hati. Apa kamu merasakan itu? Aku mengutarakannya padamu. Tak ku duga kamu pun ternyata punya rasa yang sama. Ahhh serasa semua sempurna. Kita hanya dihalangi beberapa kilometer. Tak masalah untukku namun masalah untukmu. Hanya keyakinan aku untuk bersamamu. Merasa semua sia-sia. Untuk apa kamu bilang perasaan yang sama jika tak kau wujudkan itu.

Sayang. Aku ingin semua ini menjadi nyata. Tapi, aku bisa apa jika kau tak menginginkannya. Aku hanya diam dan bersabar semoga kelak kamu tau disini ada aku yang sedang menunggumu. Menyambut jika kau siap untuk bersamaku walau jarak yang kau permasalahkan itu sudah tak berarti. Entah kapan.

Aku dengar kamu sudah mengenggam jemari seorang gadis. Siapa dia? Kekasihmu? Atau gebetanmu. Pasti kekasihmu. Beruntungnya dia mendapati kamu. Aku yang menunggumu tapi, ia yang bersamamu. Aku cemburu bodoh. Aku tak bisa menahan jutaan air mata yang jatuh membasahi pipi kala aku tau kamu begitu menyayanginya. Apa dia bisa bersabar dikala egomu datang. Apa dia bisa membujukmu dikala amarahmu membara. Tapi, sudahlah ia sudah menjadi pilihanmu.

"Untuk kamu yang pernah ku sayangi. Selamat berbahagia tanpa aku"

Jumat, 13 Februari 2015

RINDUKU, KEACUHANKU

Hampir seminggu hujan membasahi bumi setiap pagi. Awan hitam menutupi cahaya matahari. Aku rindu akan hangatnya sinar matahari pagi. Seperti aku rindu akan hadirnya kamu disini.

Heeem apa kabar kamu disana? Terasakah rinduku? Apa kamu merasakan rindu yang sama terhadapku? Aku rasa tidak. Memang siapa aku hingga harus mendapati sebuah rindu darimu. Tak apa. Aku sadar.

Ingin ku habiskan waktu denganmu. Mustahilkah itu? Sekedar duduk menikmati secangkir coklat panas atau coffe yang biasa kau teguk setiap malamnya. Mendengar langsung dari mulutmu bagaimana kehidupanmu. Mungkin ini khayalku saja. Dosakah? Terkadang aku ingin pergi darimu. Menjauh, menghiraukan kabarmu. Aku belum mampu atau memang hati ini tidak ingin melakukannya. Seiring langkah kaki, detakkan jantung bergemuruh kala memikirkanmu, mungkin aku akan melupakanmu. Karna teringat akan hadirnya ia disisimu takkan mampu mengubah aku dan kamu menjadi kita.

"Untuk kamu seseorang yang tengah mencuri perhatianku dengan keacuhanmu. "

Rabu, 11 Februari 2015

SEMANGATI AKU

Aku membuat ini untuk seorang gadis yang tengah duduk manis di sudut cafe. Iced Cappucino yang masih penuh terlihat jelas belum ia minum sedikit pun. Jemarinya yang masih sibuk mengetik dengan tatapan fokusnya.

Gadis penyuka kata-kata. Lebih memilih memainkan penanya dibandingkan dengan suaranya. Sewaktu ia akan hanyut dalam microsoft word yang penuh dengan luapan kata dalam otaknya. Entah kata-kata romantis, puitis, bahkan cacian. Semua ia tuangkan. Impiannya adalah menjadi penulis.

Baginya setiap kata itu indah entah baik atau kasar. Entah kapan impiannya akan terwujud. Sedari awal ia ingin duduk dibangku kuliah dengan jurusan Sastra Indonesia bukan dibidang Akuntansi. Namun, apalah daya mamanya tak merestui, dengan terpaksa ia menuruti mamanya dengan kukiah di jurusan Akuntansi. Dan, pada akhirnya kuliahnya pun berantakan. Ia hanya menulis pada halaman blognya. Atau pada nemo handphone-nya yang kemudian ia share ke path, instagram, tumblr atau bahkan twitter. Banyak yang menyarankan, buatlah sebuah novel lalu kirimkan pada penerbit. Dan, ia hanya menjawab, tidak semudah itu. Ia lebih sering menulis kata-kata yang saat itu ia fikirkan.

Gadis pecinta kata itu ialah aku sendiri. Aku adalah gadis yang mempunya impian menjadi penulis. Menulislah terus dan tunjukkan semua hasil tulisanmu, hobimu pada mama.

"Aku menyemangati diriku sendiri, semampunya usahaku"