Kamis, 23 Januari 2014

KECEMBURUAN BODOH

Tanpa sebuah petemuan
Tanpa sebuah kontak fisik
Tanpa sebuah suara yang terdengar langsung
Tanpa semua itu aku menyayangimu
                Suatu ketidakjelasan akan kita
                Tidak adanya keterikatan antara kita
                Hingga sebuah ucapan tanpa makna
                Dengan itu semua aku terbang tinggi
Mustahil meluapkan emosi
Melimpahkan kejanggalan dalam benak
Ku tutup rapat tanpa suara

Terkadang aku merasa cemburu

Rabu, 22 Januari 2014

TERPURUK TANPAMU

Entah apa yang kau rasakan pada hati ini. Dan aku pun bingung dengan yang ku rasakan padamu. Katamu kau membutuhkan aku. Katamu aku penting bagimu. Katamu tak mampu kau hidup tanpa ku. Namun ku rasa itu hanya sebuah ucapan yang tak berarti. Ucapan semu tanpa bukti. Walau katamu itu sungguh. Entah kenapa hati ini terkadang masih ragu. Akulah seseorang yang menaruh harapan besar padamu. Akulah seseorang yang mendambakan bahagia bersamamu. Akulah seseorang yang dengan penuh keyakinan menyayangimu.
Memang ku akui diri ini jauh dari kata sempurn . Aku hanya seseorang berusaha menjadi yang terbaik untukmu. Walau kenyataanya tak pernah benar dimatamu. Tak tahu apa yang dapat ku lakukan untuk mendapatkan hati mu itu. Hati yang pernah ku miliki dahulu. Saat ini ku masih dapat melihatmu. Suara mu masih ku dengar. Senyummu masih dapat ku nikmati. Dan, candamu masih sangat menyenangkan untukku . Kenyataan pahit kini kau bukanlah milikku. Dan semua yang kau lakukan untukku tak lagi seistimewa dahulu.
Hati ini terasa perih saat kau ingin mulai menjauh. Meninggalkan senyuman indah itu. Menyisakan suara kedamaian itu. Dan, kini sosokmu tengah beranjak pergi. Tatapan ini kosong menyaksikan hal ini. Kesepian ini di temani oleh tetesan air mata yang membasahi pipiku. Aku membutuhkan pundakmu untukku bersandar. Jarimu untuk menghapus air mataku. Dan senyumanmu untuk menghentikan tangisku. Itu semua hanya angan tanpa kepastian untuk dapat ku alami. Aku seperti bunga yang mendapatkan air terlalu banyak, hingga menjadi layu. Terlalu banyak air mata menetes dan aku pun semakin rapuh. Bukan menjadi kaktus, walau tanpa air akan tetap hidup. Aku berusaha menghadirkan pelangi dalam hidupku. Pelangi yang hadir setelah hujan datang. Sulit rasannya menghadirkan pelangi dan menjadi kaktus.
Maaf jika ku masih mengharapmu. Mengimpikan semua keindahan denganmu. Membangun cerita bersamamu. Mungkin semua itu hanya angan semu. Hanya penyejuk di kala merenung. Hanya secarik khayalan yang membuatku tersenyum. Berharap menjadi nyata namun ku rasa sulit. Kini kau tak mengharapku, melupakan semua kenangan indah yang pernah kita jalani bersama. Terlalu mudah bagimu menghapus semua cerita itu. Bahkan terlalu ringkas untuk kau ingat. Aku terlalu lugu, menunggu dirimu untuk menyatukan hati denganku. Aku tak perduli dengan apa yang di katakan mereka. Aku tak perduli dengan caci mereka. Bahkan aku pun tak peduli dengan logika yang ku fikirkan. Yang aku perdulikan hanya hatiku. Hati yang menunggu kamu kembali untukku. Hati yang berharap kau dapat bersamaku. Hati ini yakin kau akan kembali untukku, jika ku disini untukmu. Walau terkadang aku termenung sejenak, berfikir akan kah semua ini akan ada akhirnya. Bahagia atau akan berakhir sama dengan air mata? Itu hanya renungan sesaat hingga ku mempunyai seribu alasan untuk menguatkan hati ini dan meniadakan seribu alasan yang mengusik hati.
Kini ku mencoba mendalami apa yang ku rasa. Walau nanti ku harus merasakan sakit yang teramat. Setidaknya aku sudah mengikuti prinsip hati ini untuk yakin akan dirimu. Untuk selalu menyayangimu. Untuk setia berada di sisimu. Meski nanti semua yang ku lakukan berakhir dengan kau pergi menghilang dari hadapku. Dan aku pun akan rapuh dan rentan. Entah harapan itu masih tersisa atau sirna. Semua itu hanya waktu yang menjawab. Aku hanya menjalani. Takkan ku coba melawan waktu lagi. Dan aku kan menganggap semua yang telah ku lewati adalah mimpi indah yang hanya akan menjadi mimpi.
Banyak orang berkata, untuk apa menunggu jika seseorang itu tak ingin di tunggu. Dan akupun hanya tersenyum. Tak sedikit pula yang mengatakan cinta itu pengorbanan dan kita harus menunggu dan berusaha. Dan sekali lagi aku hanya dapat tersenyum. Mungkin yang ku lakukan saat ini adalah seseorang yang berpendapat bahwa cinta itu pengorbanan yang membuat kita menunggu dan berusaha. Aku menunggu walau ia tak ingin aku menunggunya. Aku tersenyum walau ia diam. Aku disini walau ia pergi. Bahkan aku bersabar walau ia mengacuhkan diri ini. Terkesan bodoh memang, namun itulah yang ku pilih.
Ada seorang sahabat berkata, jangan kau nantikan jika kau dapat menemukan yang lebih. Salah seorang yang lain pun berkata, untuk apa menyakiti diri sendiri hanya untuk mendapatkan ketidakpastian. Dan, ada pula yang berkata, bahagia nggak harus mengikuti hati terkadang logika pun dapat membuat bahagia. Entah apa yang merasuki diri ini, semua pendapat itu ku acuhkan begitu saja. Hanya mampu ku ucapkan, aku menyanyanginya dan akan ku ikuti hati ini hingga hati ini lelah sehingga logika yang menambil alih.
Jika kehendakmu memberi ku satu kesempatan. Ingin ku perbaiki semua ketidak seimbangan ini. Ingin ku buktikan bahwa diri inilah yang pantas untukmu. Akan ku buat kau beruntung memilikiku. Dan kan ku pastikan aku akan selalu berada di sisimu. Aku dan senyumku menginginkanmu. Ku ingat semua kata indah yang dahulu kau ucap di telingaku. Namun saat ini tak lagi ku dengar semua itu. Meski kau coba patahkan ini takkan henti aku membangun kembali. Tak henti aku untuk meyakinkanmu.
Masih sangat jelas ingatan ku, dahulu ketika kau genggam jemari ini dengan sigap ku lepaskan genggaman itu. Namun kini ketika kau menggenggam jemari ini dan melepaskannya, tanganku berusaha meraih jemari itu dan menggenggamnya seakan tak ingin ku lepaskan. Dan aku harap jemari ini masih dapat merasakan hangatnya genggamanmu. Raga ini masih dapat merasakan hangatnya pelukmu.
Aku di bayangi semua masa lalu mu. Semua kenangan yang pasti takkan mudah kau lupakan dari ingatanmu . Dan, sosok ini takkan mampu menggantikan dirinya. Sampai kapapun mungkin hanya dia yang kau inginkan. Hanya dia yang ada di hatimu. Hati ini menangis bahkan seakan ingin meluapkan semua kekecewaan yang terpendam. Bukankah aku yang saat ini selalu berada di sisimu, bukankah aku yang selalu menyayangimu atas semua sikapmu. Mengapa dia seseorang di masa lalulu yang mendapatkan semua perhatiaanmu, semua curahan hatimu, kasih sayangmu. Aku takkan bisa menjadi dirinya bahkan menjadi bayangannya pun aku tak mampu. Dimatamu dia seperti angin yang dapat merasuki fikiranmu kapan pun itu. Dan aku hanya debu yang dapat tertiup angin kapan pun ketika kau mengingatnya.
Tuhan!!! Hati ini sakit. Aku ingin pergi menjauh, hingga bayangku tak dapat kau lihat dan sosok ku tak dapat lagi menemanimu. Namun semua itu tak dapat ku lakukan. Aku berharap tak memiliki rasa apapun. Rasa cemburu, sakit bahkan mungkin sayang. Sebuah dosa kah rasa ini hingga ini balasan yang ku terima? Aku seperti pejalan yang kehilangan arah. Tak tau jalan mana yang harus ku pilih. Dan aku pun bingung dengan apa yang akan ku lakukan. Aku harus berhenti atau terus berjalan ke arah yang tak ku yakini. Fikiran ku buyar, pendirianku pun hampir rapuh dan hatiku pun melemah. Mungkin memang tak ada harapan lagi yang dapat ku harapkan.

Kita seperti matahari dan bulan. Yang takkan bisa menguasai wilayah dengan waktu yang sama.  Aku seperti matahari, mempunyai sinar yang kuat yang dapat memancarkan cahaya di siang hari. Dan kamu, kamu seperti bulan menguasai malam yang indah.  Sedankan dia, seperti bintang mempunyai kelip yang indah. Tentunya bulan hanya ditakdirkan dapat berdampingan dengan bintang pada malam hari, dan matahari hanya dapat menyambutnya dipagi hari. Tanpa bertemu dengan sang bulan. Mungkin seperti itulah kita. Yang tak dapat bersatu. Kamu bersama dengan dia di kehidupanmu. Dan aku hanya berharap di kehidupanku dapat bersama denganmu. 

Sabtu, 11 Januari 2014

MASA LALU

Aku termenung menatap keluar jendela memperhatikan setiap tetes air hujan yang sejak tadi turun membasahi bumi. Aroma khas tanah yang terkena air hujan begitu terasa. Aku begitu menikmatinya hingga aku pun terhanyut didalamnya. Teringat aku pernah merasakan rintikan air hujan bersamanya. Sudah berapa lama itu?? Mengapa aku masih saja mengingat itu?? Alangkah anehnya hal sebodoh itu bisa membuat aku bahagia. Dan kini seakan aku begitu merindukan hal itu.
Masa lalu!!! Aku merasa dulu aku lebih bahagia. Bahkan sangat. Seakan semua sangat sempurna. Seakan semua waktu begitu tak terasa. Tidak seperti saat ini, kini semua begitu menyebalkan. Bahkan aku sangat ingin mengakhiri semua yang aku lewati. Tak ada semangat seperti sedia kala. Membosankan. Apa ini semua karna aku kini menjalani semua dengan kesendirianku? Sepertinya begitu. Ahhh....Betapa menyedihkannya hidupku. Tapi, bukan hanya aku kan yang menjalani hidup ini dengan kesendirian tanpa adanya pasangan yang selalu menemani keseharian kita. Yang selalu mensupport apa yang kita lakukan. Yang menjaga serta memperhatikan kita. Sudah cukup lama aku menjalani semuanya sendiri dan sampai saat ini aku masih hidup, itu artinya kesendirian bukan akhir dari kehidupan kan?
Entah kenapa belakangan ini aku suka mengingat mantanku. Iya!! Mantan adalah seseorang yang dulu pernah menghiasi hari kita dengan canda tawa, bahagia, gurauan serta tingkah laku yang bodoh. Tapi, mereka juga pernah membuat kecewa, emosi, cemburu serta tangis. Beberapa kali merindukan bagaimana aku dulu bersamanya. Kita semua pasti pernah juga kan mengingat atau bahkan merindukan kenangan sama yang dulu. Jangan bilang kalau hanya aku yang merasa kayak gitu.

Saat ini aku hanya ingin bahagia dengan apa yang terjadi. Mencoba tetap tersenyum meski begitu ingin aku menangis sekencang-kencangnya. Mencoba menjalani meski aku lelah dan ingin mengakhiri semua seperti aku mengakhiri tulisan ini...

AKULAH PEMUJAMU #3

Anganku seakan tercapai. Aku sudah mengetahui nama bahkan mendapati PIN Bbnya. Sangat tidak mungkin aku menyebutkan namanya disini. Entah bagaimana aku mengungkapkan apa yang aku rasakan. Aku bahagia, aku lega dan aku bersyukur. Pada akhirnya apa yang aku ingini sudah aku dapati, meski semua itu aku mendapatkannya dari temannya yang sengaja ku temui saat di parkiran kampus. Apa yang aku niatkan sudah aku lakukan dan sudah kudapati hasilnya.
Aku senang bukan kepalang saat perbincangan pertama ia lakukan dengan chat aku duluan, karna dimulai dari situlah aku dapat berkomunikasi dengannya. Hanya perbincangan ringan saja dapat membuatku seakan melayang ke awan. Namun saat ku ketahui ternyata benar ia sudah mempunyai kekasih, seperti sedang bermain diatas awan dan seketika petir menyambar. Hancur. Seakan jantung ini berhenti berdetak. Nafas ini tersendat. Pemikiran ini tak karuan. Bodoh!!! Bukankah sebelumnya aku sudah tau bahwa ada cincin yang melingkar dijari manis kirinya yang menandakan ia sudah mempunyai kekasih. Lantas mengapa masih saja aku penasaran dengannya dan ingin mengenalnya. “Pasti hubungan yang mereka jalani sudah lama. Sampai ada ikatan cincin seperti itu” fikirku.
Mungkin memang saat ini dan seterusnya aku hanya akan menjadi sosok yang mengaguminya, sosok yang memujanya, sosok yang memperhatikanya dengan perasaan yang kacau berkecamuk. Sudahlah hanya dengan berkenalan saja dengannya sudah membuatku merasa cukup lantas mengapa harus ada pemikiran untuk bisa bersama. Sungguh pemikiran yang sangat jauh dan aku harap segera hilang dalam fikiranku. Mungkin ini akan menjadi cerita terakhirku tentang dia. Dia sosok yang akan selalu menyita perhatianku, menyita pandanganku dan menyita fikiranku.

Aku hanyalah seorang bocah yang ingin lebih mengenalmu. Yang tidak perduli betapa kamu sangat terlihat sombong.