Hai kamu... Masih
tentang kamu yang aku ceritakan ini. Kamu yang membuatku seakan mati akan
waktu. Ya!! Serasa waktu yang mempermainkan aku. Hingga pada akhirnya aku
kembali di hadapkan denganmu. Entah mengapa kita harus kembali di pertemukan. Bahkan
setelah aku berusaha menjauh. Namun kamu kembali bukan dengan hati yang dulu. Lebih
tepatnya hati yang sudah di miliki oleh dia. Ya!! Kekasihmu saat ini. Seakan aku
selalu menjadi orang ketiga di setiap hubunganmu. Mengapa tak kau lepaskan saja
aku? Walau sejujurnya tidak ada penolakan dalam hati ini untuk kembali
menyambutmu kembali dalam hidupku. Menemani hariku yang sepi sejak kepergianmu
dalam hidupku. Menghiaskan kembali sebuah senyum bahkan tawa yang sempat
menghilang. Namun kamu juga kembali membawakan aku sebuah air mata akan
masalalu yang sama sekali belum terlepas dalam ingatanku. Kamu seakan melempar
aku kedalam masa indah kita dahulu. Sebelum kamu memutuskan kebahagiaan itu. Sekarang
kamu sudah bahagia walau itu bukan karna aku. Aku hanya seseorang yang
menyaksikan kamu bahagia dengan tangis yang tanpa terasa selalu membasahi pipi
ini dan hati yang menjerit dan berkata “Mengapa bukan karna aku kamu dapat
bahagia kini?”. Aku tak ingin menunjukkan rasa pahit ini di hadapmu. Rasa pahit
dan rasa bodoh sedunia (cemburu) saat kamu menceritakan tentangnya di hadapku. Itu
hak kamu, hanya saja hati ini yang begitu rapuh. Betapa menyedihkannya hidupku
yang masih sangat tertuju padamu. Hanya kamu. Setelah sekian lama ini hanya
namamu yang masih ku jaga dengan rapi. Jika aku menyebutkan nama lain itu hanya
gurauan belaka, hanya ingin tahu apakah kamu akan cemburu saat aku mengucapkan
nama dan bukan namamu, namun aku tau itu hanya percobaan bodoh. Karna aku tahu
kamu tak akan memperdulikannya meski aku menyebutkan 1000 nama sekalipun. Mungkin
perasaanmu untukku sudah lama menghilang sehingga tak ada sedikitpun yang
tersisa, yang mungkin saja bisa ku tumbuhkan kembali. Tahukah kamu? Aku masih
memiliki rasa ini walau aku bilang rasa padamu sudah berlalu. Semudah itukah
kamu percaya dengan kebohongan yang aku buat itu. Tahukah kamu hati ini sakit
saat harus berkata “Pertahankan hubungannya dengan dia. Buat dia bahagia
sebagaimana kamu buat aku bahagia dulu.” Dan aku mengucapkan semua itu dengan
senyuman tanpa kamu tau ada tangis yang ku rasa dalam hati. Aku hanya ingin
kamu bahagia, meski aku harus membayarnya dengan air mata. Mengenangmu adalah
hal terindah yang aku lakukan setiap malam. Seakan itu seperti dongeng
penghantar tidurku yang akan mempertemukan aku dan kamu walau hanya dalam
mimpi. Haruskah aku menjauhi mu?? Karna semakin dekat denganmu akan semakin
menumbuhkan rasa yang tak sepatutnya ada. Namun menjauh darimu adalah hal yang
sangat aku benci meski pernah aku coba lakukan itu dan selalu gagal. Apapun yang
akan terjadi antara kita aku akan tetap bersyukur. Mendekat atau bahkan menjauh
sekalipun. Aku yakin itu yang terbaik. Tak apa jika aku harus merasa sakit lagi
karna mungkin sakit adalah teman setiaku kini. Aku begitu menikmati
ketidakjelasan kita. Bodoh!! Memang apa yang aku fikirkan? Hubungan lebih dari
ini?? Pemikiran bodoh yang selalu terlintas. Aku dan kamu entah kapan akan
menjadi “Kita” yang begitu nyata dan sempurna dengan ketulusan yang menyertai
kita. Itu hanya angan dan akan tetap menjadi angan entah sampai kapan. Aku menunggu
meski aku tau kau tak butuh aku menunggumu. Aku berharap meski aku tau kau
mengabaikan pengharapanku ini. Aku mengkhawatirkan yang tidak memperdulikanku. Dan
aku mencintaimu yang begitu mencintai dia........
Tidak ada komentar:
Posting Komentar