Sayang,
sampai kapan kamu sibuk dengan urusanmu? Sampai kapan kamu akan mengacuhkan
aku? Meski begitu tenang saja aku tetap disini menantimu. Menanti kabar darimu.
Kita memang tidak saling memberi kabar beberapa hari ini. Namun ketahuilah aku
tak pernah tidak memikirkanmu, walau mungkin kamu tidak memikirkan aku. Aku selalu berharap saat esok ku membuka mata
aku mendapati sebuah pesan darimu, hanya ucapan “Selamat Pagi” begitu sederhana
namun dapat membuatku tersenyum.
Mengapa
aku harus selalu memberitahumu tentang apa yang aku ingini? Mengapa tak kau
coba memahami sendiri apa yang aku ingin? Sulitkah bagimu? Aku tak selalu
mengutarakan apa yang aku ingini. Aku ingin
kamu sendiri yang dapat membaca dari sorot mata dan gerak-gerik yang ku
lakukan. Aku tau kamu bukan peramal yang harus tau segalanya. Kamu hanya
manusia biasa sama seperti ku. Namun sejenak saja kamu memahami apa yang aku
rasakan.
Aku
mencoba mengerti dengan diamku. Aku mencoba mengalah dengan diamku. Aku mencoba
tersenyum disetiap gumam yang ingin aku tumpahkan. Mencoba memahami semua
sifatku yang membuatku jengah. Sifatmu yang membuatku ingin sekali memakimu. Tapi,
percayalah sayang disetiap banyak keluhanku aku tetap menyanyangimu. Aku tersenyum
dengan setiap keegoisanmu. Aku tersenyum dengan setiap pengabaianmu. Mungkin aku
akan tetap tersenyum saat nanti aku yang akan pergi meninggalkanmu. Dan itu
karena ulahmu sendiri.
Hei
usap air matamu sayang, jelas ini bukan dirimu. Tak usah kamu menangisi apa
yang kamu tau penyebabnya dan itu adalah karenamu. Tak usah menyesali sayang,
mungkin ini memang lebih baik adanya. Ini bukan sepenuhnya salahmu. Mungkin ini
karna sifatku yang begitu manja. Atau mungkin karna sifatku yang begitu mengekangmu.
Sudahlah bukankah sudah ku ijinkan untuk kau bersamanya. Tak apa jika bukan aku orang yang kamu maksud. Tak apa
jika bukan aku seorang yang membuat lengkungan senyum dibibirmu. Tak apa jika
kau pergi.
Hujan
hari ini sebagai penghujung hubungan kita. Hubungan yang terlalu singkat ini
nyatanya memang harus sampai disini. Karna aku pun tak tau sampai kapan aku
pertahankan ini seorang diri jika kita tetap melanjutkan semua ini. Aku yang
menantikan sedangkan kamu yang menjauh. Aku ingin ditemani denganmu bukan
dengan air mata yang disebabkan olehmu sayang. Sudah, kini hentikan lelucon
memuakan ini. Kini kita cari bahagia kita dengan cara kita sendiri. Walau aku
masih sangat ingin dibahagiakan olehmu. Terimakasih kamu kesayanganku......
on my twitter -->> @inanovelania
Tidak ada komentar:
Posting Komentar