Kita mengenal setahun yang lalu. Berawal hanya dari chat biasa. Lambat laun kita seperti ada kerterikatan. Saling memberi kabar. Ada bahagia sendiri saat berkomunikasi denganmu. Senyum-senyum geli aku mengingatnya. Hanya memandang fotomu saja membuat aku gila.
Taukah kamu ada perasaan nyata yang timbul dalam hati. Apa kamu merasakan itu? Aku mengutarakannya padamu. Tak ku duga kamu pun ternyata punya rasa yang sama. Ahhh serasa semua sempurna. Kita hanya dihalangi beberapa kilometer. Tak masalah untukku namun masalah untukmu. Hanya keyakinan aku untuk bersamamu. Merasa semua sia-sia. Untuk apa kamu bilang perasaan yang sama jika tak kau wujudkan itu.
Sayang. Aku ingin semua ini menjadi nyata. Tapi, aku bisa apa jika kau tak menginginkannya. Aku hanya diam dan bersabar semoga kelak kamu tau disini ada aku yang sedang menunggumu. Menyambut jika kau siap untuk bersamaku walau jarak yang kau permasalahkan itu sudah tak berarti. Entah kapan.
Aku dengar kamu sudah mengenggam jemari seorang gadis. Siapa dia? Kekasihmu? Atau gebetanmu. Pasti kekasihmu. Beruntungnya dia mendapati kamu. Aku yang menunggumu tapi, ia yang bersamamu. Aku cemburu bodoh. Aku tak bisa menahan jutaan air mata yang jatuh membasahi pipi kala aku tau kamu begitu menyayanginya. Apa dia bisa bersabar dikala egomu datang. Apa dia bisa membujukmu dikala amarahmu membara. Tapi, sudahlah ia sudah menjadi pilihanmu.
"Untuk kamu yang pernah ku sayangi. Selamat berbahagia tanpa aku"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar