Aku hanya ingini bahagia. Dan, Tuhan tidak pernah bercanda saat memberi tawa bahagia pada umatnya. Ku ucapkan syukur tiada tara. Hati yang mungkin tlah lama mati kini telah bernyawa kembali. Aku yang telah lama tidur kini telah tersadar. Layaknya putri tidur yang bangun lantaran mendapati sebuah kecupan dari sang pangeran. Aku mendapati sadarku dari tamparan kata-katamu. Hebatnya kamu. Berjuta kata yang terucap dari mulutmu membuatku diam mematung. Tak ada kata yang tepat untukku menjawabnya. Bukankah aku selalu mengelak saat orang lain berbicara tapi, denganmu aku bagai anak kelinci yang di hadang sang singa. Hanya diam.
Tuhan, aku mengucap syukur atas semua yang telah engkau beri padaku. Tapi, Tuhan tidak kah engau bercanda atas perasaan yang kau beri padaku ini. Perasaan apa ini?? Nyaman dengan keberadaannya. Tenang dengan tatapannya. Tatapan yang begitu teduh. Membuat luluh saja. Tidaaak Tuhan! Jangan dia. Aku tak ingin kehilangannya lantaran aku mempunyai rasa terhadap seorang yang telah memiliki kekasih. Hubungan yang telah mereka jaga dan aku hanya singgah sebentar. Mungkin hanya waktu, waktu yang mengantarkanku pada masa di mana aku harus melenyapkan semua yang tak ku harapkan. Bukan aku tidak bersyukur karna bertemu dengannya. Aku sangaaat bersyukur dapat mengenal bahkan mendapati perhatiannya. Aku hanya tidak siap jika harus kehilangan itu semua.
Ini perihal hatiku. Biar saja aku yang bertanggung jawab penuh atasnya. Tawa, bahagia atau bahkan tangis sekalipun, aku terima.
Rabu, 08 April 2015
PERIHAL HATIKU
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar