Aku bingung dengan semua yang terjadi
saat ini. Bahkan entah harus dari mana aku memulainya. Awalnya aku hanya ingin
sekedar bercanda dengannya. Panggil lah ia Dikta. Namun entah mengapa aku jadi
ingin memperhatikannya secara lebih. Aku ingin menjadi seorang yang ia percayai
untuk menampung setengah masalahnya. Ia seorang yang sangat sulit untuk
ditebak, sulit untuk dimengerti. Dan entah bagaimana aku harus memahaminya. Ia
begitu peduli dengan keadaan sekitar terkecuali keluarganya. Ya!! Ia sangat
tidak bersahabat dengan keluarga. Alasan apa yang membuatnya seperti itu aku
pun tak tau. Seakan ia sangat membenci keluarganya. Dan lancangnya aku seakan
ingin menjadi orang yang berarti dalam hidupnya. Mustahil memang, karna ia saja
bahkan tak peduli dengan hidupnya. Aku ingin membuatnya mengerti betapa indah
hidup ini. Namun memang siapalah aku?? Aku bukanlah motivator yang dapat
memberikan motivasi untuk hidup seseorang. Aku pun bukanlah seseorang yang
hidupnya patut untuk di contoh. Aku hanya ingin sedikit bisa memahami
keinginannya. Meski itu sulit akan ku coba.
Berawal dari rasa hanya ingin
memahami keinginannya seakan tumbuh perasaan lainnya. Entah perasaan apa ini
aku pun tak mengerti. Hingga aku sadar mungkin aku beranjak menyayanginya.
Benarkah ini??? Bukankah aku menyukai seseorang bernama Fian. Seseorang yang cuek yang takkan mempunyai
rasa yang sama untukku. Seseorang yang hanya akan menganggapku bukan hal
penting. Dan aku akan bersiap diri jika waktu aku dan dia akan di pertemukan.
Entah kapan itu??
Dan aku menyadari satu hal. Sahabatku
Icha, dia menyukai Dikta. Karna memang aku, Icha dan Dikta adalah teman dari
kita masih duduk dibangku SD. Saat aku menyadari itu aku semakin bingung dengan
apa yang harus aku lakukan. Aku hanya mencoba menyatukan mereka. Namun setiap
aku membahas Icha dengan Dikta ia langsung enggan membahasnya. Sampai pada
akhirnya aku bertanya langsung dengan Dikta, bagaimana perasaan Dikta terhadap
Icha. Tak banyak yang Dikta ucapkan ia hanya menjawab bahwa perasaannya
terhadapa Icha adalah biasa aja. Dan, aku sekedar iseng menanyakan bagaimana perasaanya terhadapku. Terkejutku dengan jawabannya, ia menjawab “Boleh aku
izin buat sayang sama kamu?”. Aku terdiam seakan tubuh ini beku dengan
sendirinya. Hanya perasaan Icha yang aku fikirkan saat itu. Aku rasa Icha
menyadari kedekatan aku dan Dikta bukanlah kedekatan biasa. Namun aku seakan
mengingkari semua ini. Aku menjalani semua ini dengan perasaan biasa saja. Sampai pada akhirnya aku menyadari aku mulai menyayanginya lebih dari seorang teman...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar