Entah
apa yang kau rasakan pada hati ini. Dan aku pun bingung dengan yang ku rasakan
padamu. Katamu kau membutuhkan aku. Katamu aku penting bagimu. Katamu tak mampu
kau hidup tanpa ku. Namun ku rasa itu hanya sebuah ucapan yang tak berarti.
Ucapan semu tanpa bukti. Walau katamu itu sungguh. Entah kenapa hati ini
terkadang masih ragu. Akulah seseorang yang menaruh harapan besar padamu.
Akulah seseorang yang mendambakan bahagia bersamamu. Akulah seseorang yang dengan
penuh keyakinan menyayangimu.
Memang
ku akui diri ini jauh dari kata sempurn . Aku hanya seseorang berusaha menjadi
yang terbaik untukmu. Walau kenyataanya tak pernah benar dimatamu. Tak tahu apa
yang dapat ku lakukan untuk mendapatkan hati mu itu. Hati yang pernah ku miliki
dahulu. Saat ini ku masih dapat melihatmu. Suara mu masih ku dengar. Senyummu
masih dapat ku nikmati. Dan, candamu masih sangat menyenangkan untukku .
Kenyataan pahit kini kau bukanlah milikku. Dan semua yang kau lakukan untukku
tak lagi seistimewa dahulu.
Hati
ini terasa perih saat kau ingin mulai menjauh. Meninggalkan senyuman indah itu.
Menyisakan suara kedamaian itu. Dan, kini sosokmu tengah beranjak pergi.
Tatapan ini kosong menyaksikan hal ini. Kesepian ini di temani oleh tetesan air
mata yang membasahi pipiku. Aku membutuhkan pundakmu untukku bersandar. Jarimu
untuk menghapus air mataku. Dan senyumanmu untuk menghentikan tangisku. Itu
semua hanya angan tanpa kepastian untuk dapat ku alami. Aku seperti bunga yang
mendapatkan air terlalu banyak, hingga menjadi layu. Terlalu banyak air mata menetes
dan aku pun semakin rapuh. Bukan menjadi kaktus, walau tanpa air akan tetap
hidup. Aku berusaha menghadirkan pelangi dalam hidupku. Pelangi yang hadir
setelah hujan datang. Sulit rasannya menghadirkan pelangi dan menjadi kaktus.
Maaf
jika ku masih mengharapmu. Mengimpikan semua keindahan denganmu. Membangun
cerita bersamamu. Mungkin semua itu hanya angan semu. Hanya penyejuk di kala
merenung. Hanya secarik khayalan yang membuatku tersenyum. Berharap menjadi
nyata namun ku rasa sulit. Kini kau tak mengharapku, melupakan semua kenangan
indah yang pernah kita jalani bersama. Terlalu mudah bagimu menghapus semua
cerita itu. Bahkan terlalu ringkas untuk kau ingat. Aku terlalu lugu, menunggu
dirimu untuk menyatukan hati denganku. Aku tak perduli dengan apa yang di
katakan mereka. Aku tak perduli dengan caci mereka. Bahkan aku pun tak peduli
dengan logika yang ku fikirkan. Yang aku perdulikan hanya hatiku. Hati yang
menunggu kamu kembali untukku. Hati yang berharap kau dapat bersamaku. Hati ini
yakin kau akan kembali untukku, jika ku disini untukmu. Walau terkadang aku
termenung sejenak, berfikir akan kah semua ini akan ada akhirnya. Bahagia atau
akan berakhir sama dengan air mata? Itu hanya renungan sesaat hingga ku
mempunyai seribu alasan untuk menguatkan hati ini dan meniadakan seribu alasan
yang mengusik hati.
Kini
ku mencoba mendalami apa yang ku rasa. Walau nanti ku harus merasakan sakit
yang teramat. Setidaknya aku sudah mengikuti prinsip hati ini untuk yakin akan
dirimu. Untuk selalu menyayangimu. Untuk setia berada di sisimu. Meski nanti
semua yang ku lakukan berakhir dengan kau pergi menghilang dari hadapku. Dan
aku pun akan rapuh dan rentan. Entah harapan itu masih tersisa atau sirna. Semua
itu hanya waktu yang menjawab. Aku hanya menjalani. Takkan ku coba melawan
waktu lagi. Dan aku kan menganggap semua yang telah ku lewati adalah mimpi indah
yang hanya akan menjadi mimpi.
Banyak
orang berkata, untuk apa menunggu jika seseorang itu tak ingin di tunggu. Dan
akupun hanya tersenyum. Tak sedikit pula yang mengatakan cinta itu pengorbanan
dan kita harus menunggu dan berusaha. Dan sekali lagi aku hanya dapat tersenyum.
Mungkin yang ku lakukan saat ini adalah seseorang yang berpendapat bahwa cinta
itu pengorbanan yang membuat kita menunggu dan berusaha. Aku menunggu walau ia
tak ingin aku menunggunya. Aku tersenyum walau ia diam. Aku disini walau ia
pergi. Bahkan aku bersabar walau ia mengacuhkan diri ini. Terkesan bodoh
memang, namun itulah yang ku pilih.
Ada
seorang sahabat berkata, jangan kau nantikan jika kau dapat menemukan yang
lebih. Salah seorang yang lain pun berkata, untuk apa menyakiti diri sendiri
hanya untuk mendapatkan ketidakpastian. Dan, ada pula yang berkata, bahagia
nggak harus mengikuti hati terkadang logika pun dapat membuat bahagia. Entah
apa yang merasuki diri ini, semua pendapat itu ku acuhkan begitu saja. Hanya
mampu ku ucapkan, aku menyanyanginya dan akan ku ikuti hati ini hingga hati ini
lelah sehingga logika yang menambil alih.
Jika
kehendakmu memberi ku satu kesempatan. Ingin ku perbaiki semua ketidak
seimbangan ini. Ingin ku buktikan bahwa diri inilah yang pantas untukmu. Akan ku
buat kau beruntung memilikiku. Dan kan ku pastikan aku akan selalu berada di
sisimu. Aku dan senyumku menginginkanmu. Ku ingat semua kata indah yang dahulu
kau ucap di telingaku. Namun saat ini tak lagi ku dengar semua itu. Meski kau
coba patahkan ini takkan henti aku membangun kembali. Tak henti aku untuk
meyakinkanmu.
Masih
sangat jelas ingatan ku, dahulu ketika kau genggam jemari ini dengan sigap ku
lepaskan genggaman itu. Namun kini ketika kau menggenggam jemari ini dan
melepaskannya, tanganku berusaha meraih jemari itu dan menggenggamnya seakan
tak ingin ku lepaskan. Dan aku harap jemari ini masih dapat merasakan hangatnya
genggamanmu. Raga ini masih dapat merasakan hangatnya pelukmu.
Aku
di bayangi semua masa lalu mu. Semua kenangan yang pasti takkan mudah kau
lupakan dari ingatanmu . Dan, sosok ini takkan mampu menggantikan dirinya.
Sampai kapapun mungkin hanya dia yang kau inginkan. Hanya dia yang ada di
hatimu. Hati ini menangis bahkan seakan ingin meluapkan semua kekecewaan yang
terpendam. Bukankah aku yang saat ini selalu berada di sisimu, bukankah aku
yang selalu menyayangimu atas semua sikapmu. Mengapa dia seseorang di masa
lalulu yang mendapatkan semua perhatiaanmu, semua curahan hatimu, kasih
sayangmu. Aku takkan bisa menjadi dirinya bahkan menjadi bayangannya pun aku
tak mampu. Dimatamu dia seperti angin yang dapat merasuki fikiranmu kapan pun
itu. Dan aku hanya debu yang dapat tertiup angin kapan pun ketika kau
mengingatnya.
Tuhan!!!
Hati ini sakit. Aku ingin pergi menjauh, hingga bayangku tak dapat kau lihat
dan sosok ku tak dapat lagi menemanimu. Namun semua itu tak dapat ku lakukan. Aku
berharap tak memiliki rasa apapun. Rasa cemburu, sakit bahkan mungkin sayang. Sebuah
dosa kah rasa ini hingga ini balasan yang ku terima? Aku seperti pejalan yang
kehilangan arah. Tak tau jalan mana yang harus ku pilih. Dan aku pun bingung dengan
apa yang akan ku lakukan. Aku harus berhenti atau terus berjalan ke arah yang
tak ku yakini. Fikiran ku buyar, pendirianku pun hampir rapuh dan hatiku pun
melemah. Mungkin memang tak ada harapan lagi yang dapat ku harapkan.
Kita
seperti matahari dan bulan. Yang takkan bisa menguasai wilayah dengan waktu
yang sama. Aku seperti matahari, mempunyai
sinar yang kuat yang dapat memancarkan cahaya di siang hari. Dan kamu, kamu
seperti bulan menguasai malam yang indah.
Sedankan dia, seperti bintang mempunyai kelip yang indah. Tentunya bulan
hanya ditakdirkan dapat berdampingan dengan bintang pada malam hari, dan
matahari hanya dapat menyambutnya dipagi hari. Tanpa bertemu dengan sang bulan.
Mungkin seperti itulah kita. Yang tak dapat bersatu. Kamu bersama dengan dia di
kehidupanmu. Dan aku hanya berharap di kehidupanku dapat bersama denganmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar