Rabu, 22 Januari 2014

TERPURUK TANPAMU

Entah apa yang kau rasakan pada hati ini. Dan aku pun bingung dengan yang ku rasakan padamu. Katamu kau membutuhkan aku. Katamu aku penting bagimu. Katamu tak mampu kau hidup tanpa ku. Namun ku rasa itu hanya sebuah ucapan yang tak berarti. Ucapan semu tanpa bukti. Walau katamu itu sungguh. Entah kenapa hati ini terkadang masih ragu. Akulah seseorang yang menaruh harapan besar padamu. Akulah seseorang yang mendambakan bahagia bersamamu. Akulah seseorang yang dengan penuh keyakinan menyayangimu.
Memang ku akui diri ini jauh dari kata sempurn . Aku hanya seseorang berusaha menjadi yang terbaik untukmu. Walau kenyataanya tak pernah benar dimatamu. Tak tahu apa yang dapat ku lakukan untuk mendapatkan hati mu itu. Hati yang pernah ku miliki dahulu. Saat ini ku masih dapat melihatmu. Suara mu masih ku dengar. Senyummu masih dapat ku nikmati. Dan, candamu masih sangat menyenangkan untukku . Kenyataan pahit kini kau bukanlah milikku. Dan semua yang kau lakukan untukku tak lagi seistimewa dahulu.
Hati ini terasa perih saat kau ingin mulai menjauh. Meninggalkan senyuman indah itu. Menyisakan suara kedamaian itu. Dan, kini sosokmu tengah beranjak pergi. Tatapan ini kosong menyaksikan hal ini. Kesepian ini di temani oleh tetesan air mata yang membasahi pipiku. Aku membutuhkan pundakmu untukku bersandar. Jarimu untuk menghapus air mataku. Dan senyumanmu untuk menghentikan tangisku. Itu semua hanya angan tanpa kepastian untuk dapat ku alami. Aku seperti bunga yang mendapatkan air terlalu banyak, hingga menjadi layu. Terlalu banyak air mata menetes dan aku pun semakin rapuh. Bukan menjadi kaktus, walau tanpa air akan tetap hidup. Aku berusaha menghadirkan pelangi dalam hidupku. Pelangi yang hadir setelah hujan datang. Sulit rasannya menghadirkan pelangi dan menjadi kaktus.
Maaf jika ku masih mengharapmu. Mengimpikan semua keindahan denganmu. Membangun cerita bersamamu. Mungkin semua itu hanya angan semu. Hanya penyejuk di kala merenung. Hanya secarik khayalan yang membuatku tersenyum. Berharap menjadi nyata namun ku rasa sulit. Kini kau tak mengharapku, melupakan semua kenangan indah yang pernah kita jalani bersama. Terlalu mudah bagimu menghapus semua cerita itu. Bahkan terlalu ringkas untuk kau ingat. Aku terlalu lugu, menunggu dirimu untuk menyatukan hati denganku. Aku tak perduli dengan apa yang di katakan mereka. Aku tak perduli dengan caci mereka. Bahkan aku pun tak peduli dengan logika yang ku fikirkan. Yang aku perdulikan hanya hatiku. Hati yang menunggu kamu kembali untukku. Hati yang berharap kau dapat bersamaku. Hati ini yakin kau akan kembali untukku, jika ku disini untukmu. Walau terkadang aku termenung sejenak, berfikir akan kah semua ini akan ada akhirnya. Bahagia atau akan berakhir sama dengan air mata? Itu hanya renungan sesaat hingga ku mempunyai seribu alasan untuk menguatkan hati ini dan meniadakan seribu alasan yang mengusik hati.
Kini ku mencoba mendalami apa yang ku rasa. Walau nanti ku harus merasakan sakit yang teramat. Setidaknya aku sudah mengikuti prinsip hati ini untuk yakin akan dirimu. Untuk selalu menyayangimu. Untuk setia berada di sisimu. Meski nanti semua yang ku lakukan berakhir dengan kau pergi menghilang dari hadapku. Dan aku pun akan rapuh dan rentan. Entah harapan itu masih tersisa atau sirna. Semua itu hanya waktu yang menjawab. Aku hanya menjalani. Takkan ku coba melawan waktu lagi. Dan aku kan menganggap semua yang telah ku lewati adalah mimpi indah yang hanya akan menjadi mimpi.
Banyak orang berkata, untuk apa menunggu jika seseorang itu tak ingin di tunggu. Dan akupun hanya tersenyum. Tak sedikit pula yang mengatakan cinta itu pengorbanan dan kita harus menunggu dan berusaha. Dan sekali lagi aku hanya dapat tersenyum. Mungkin yang ku lakukan saat ini adalah seseorang yang berpendapat bahwa cinta itu pengorbanan yang membuat kita menunggu dan berusaha. Aku menunggu walau ia tak ingin aku menunggunya. Aku tersenyum walau ia diam. Aku disini walau ia pergi. Bahkan aku bersabar walau ia mengacuhkan diri ini. Terkesan bodoh memang, namun itulah yang ku pilih.
Ada seorang sahabat berkata, jangan kau nantikan jika kau dapat menemukan yang lebih. Salah seorang yang lain pun berkata, untuk apa menyakiti diri sendiri hanya untuk mendapatkan ketidakpastian. Dan, ada pula yang berkata, bahagia nggak harus mengikuti hati terkadang logika pun dapat membuat bahagia. Entah apa yang merasuki diri ini, semua pendapat itu ku acuhkan begitu saja. Hanya mampu ku ucapkan, aku menyanyanginya dan akan ku ikuti hati ini hingga hati ini lelah sehingga logika yang menambil alih.
Jika kehendakmu memberi ku satu kesempatan. Ingin ku perbaiki semua ketidak seimbangan ini. Ingin ku buktikan bahwa diri inilah yang pantas untukmu. Akan ku buat kau beruntung memilikiku. Dan kan ku pastikan aku akan selalu berada di sisimu. Aku dan senyumku menginginkanmu. Ku ingat semua kata indah yang dahulu kau ucap di telingaku. Namun saat ini tak lagi ku dengar semua itu. Meski kau coba patahkan ini takkan henti aku membangun kembali. Tak henti aku untuk meyakinkanmu.
Masih sangat jelas ingatan ku, dahulu ketika kau genggam jemari ini dengan sigap ku lepaskan genggaman itu. Namun kini ketika kau menggenggam jemari ini dan melepaskannya, tanganku berusaha meraih jemari itu dan menggenggamnya seakan tak ingin ku lepaskan. Dan aku harap jemari ini masih dapat merasakan hangatnya genggamanmu. Raga ini masih dapat merasakan hangatnya pelukmu.
Aku di bayangi semua masa lalu mu. Semua kenangan yang pasti takkan mudah kau lupakan dari ingatanmu . Dan, sosok ini takkan mampu menggantikan dirinya. Sampai kapapun mungkin hanya dia yang kau inginkan. Hanya dia yang ada di hatimu. Hati ini menangis bahkan seakan ingin meluapkan semua kekecewaan yang terpendam. Bukankah aku yang saat ini selalu berada di sisimu, bukankah aku yang selalu menyayangimu atas semua sikapmu. Mengapa dia seseorang di masa lalulu yang mendapatkan semua perhatiaanmu, semua curahan hatimu, kasih sayangmu. Aku takkan bisa menjadi dirinya bahkan menjadi bayangannya pun aku tak mampu. Dimatamu dia seperti angin yang dapat merasuki fikiranmu kapan pun itu. Dan aku hanya debu yang dapat tertiup angin kapan pun ketika kau mengingatnya.
Tuhan!!! Hati ini sakit. Aku ingin pergi menjauh, hingga bayangku tak dapat kau lihat dan sosok ku tak dapat lagi menemanimu. Namun semua itu tak dapat ku lakukan. Aku berharap tak memiliki rasa apapun. Rasa cemburu, sakit bahkan mungkin sayang. Sebuah dosa kah rasa ini hingga ini balasan yang ku terima? Aku seperti pejalan yang kehilangan arah. Tak tau jalan mana yang harus ku pilih. Dan aku pun bingung dengan apa yang akan ku lakukan. Aku harus berhenti atau terus berjalan ke arah yang tak ku yakini. Fikiran ku buyar, pendirianku pun hampir rapuh dan hatiku pun melemah. Mungkin memang tak ada harapan lagi yang dapat ku harapkan.

Kita seperti matahari dan bulan. Yang takkan bisa menguasai wilayah dengan waktu yang sama.  Aku seperti matahari, mempunyai sinar yang kuat yang dapat memancarkan cahaya di siang hari. Dan kamu, kamu seperti bulan menguasai malam yang indah.  Sedankan dia, seperti bintang mempunyai kelip yang indah. Tentunya bulan hanya ditakdirkan dapat berdampingan dengan bintang pada malam hari, dan matahari hanya dapat menyambutnya dipagi hari. Tanpa bertemu dengan sang bulan. Mungkin seperti itulah kita. Yang tak dapat bersatu. Kamu bersama dengan dia di kehidupanmu. Dan aku hanya berharap di kehidupanku dapat bersama denganmu. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar