Minggu, 12 Oktober 2014

RINDU INI

Seperti rembulan yang menyinari malam, kamu  yang memancarkan sinar terang dalam hidupku. Aku layaknya bintang kecil yang mungkin begitu sulit kau lihat. Kini aku tengah menatapmu tanpa lengah. Entah kamu sadar atau tidak akan keberadaanku. Mungkin saja kamu sadar hanya saja kamu begitu sangat tidak peduli akan adanya aku. Sedang aku begitu mendambakan pertemuan kita. Iya!! Itu pertama kalinya aku melihatmu secara nyata. Meski pada nyatanya semua harapan dan anganku dulu tidak bisa aku lakukan kini. Dulu, aku mengharapkan bisa benar-benar menatap kedua bola matamu. Menyentuh kedua tanganmu dan menggenggam jarimu. Bahkan memelukmu dengan begitu erat. Kini nyatanya semua tak bisa aku lakukan karna yang hanya dapat aku lakukan hanya melihatmu dan memperhatikanmu. Taukah kamu betapa hati ini berguncang, betapa jantung ini berdegup sangat cepat dan betapa aku ingin menangis. Aku ingin menangis karna aku begitu merindukanmu, sangat. Sudah berapa lama kita tidak berkomunikasi?? Seminggu?? Atau sebulan??? Seberapapun itu aku merindukanmu. Aku ingin bertanya padamu, apa yang kau rasakan sebenarnya terhadapku. Apa semua pengakuan sayangmu terhadapku hanya bualan semata? Hanya ucapan tanpa rasa yang nyata. Pernah ku katakan jika perasaan yang ku miliki padamu adalah nyata. Dan itu masih sangat aku rasakan hingga kini.

Kini aku tau kamu tengah bersama yang lain. Ya!! Aku dengar kamu tengah menggenggam hubungan bersama seorang gadis. Apa gadis yang kini bersamamu ia adalah orang yang kau sayangi sesungguhnya. Gadis yang akan menjalani kehidupan nyata denganmu. Dan, yang  ku tahu sepertinya ia terlalu bocah. Apa dia bisa mengertimu daripada aku?? Atau mungkin ini karma yang harus kamu terima?? Dulu aku mencoba menerima sikapmu yang terlalu mudah marah, sangat mudah ngambek saat kemauanmu tak ku turuti. Apa sekarang kamu yang melakukan itu untuknya? Kamu yang mengertinya? Beruntung sekali dirinya. Bahkan dulu aku merasa tak pernah dimengertimu. Pedih.


Mungkin memang kamu nggak pernah sesayang aku menyayangimu. Kamu nggak pernah merindu sedalam aku merindukanmu. Kamu tidak pernah merasakan itu semua. Sementara aku disini begitu lemah, begitu rapuh. Sikap dinginmu kini adalah siksa yang ku rasa, hantaman karang masih kalah perih dari ini. Aku hanya mencoba tegar menghadapi sikapmu. Boleh aku jujur padamu, aku masih berharap sikapmu akan seperti semula. Sikap  manismu yang takkan membuatku lupa, yang bahkan masih sangat ku ingat. Sikap manjamu, sikap ambekanmu itu semua aku rindukan. Sudahlah aku ingin sekali tidak peduli dengan ini semua, sama seperti kamu yang sangat tidak peduli terhadap perasaan ini. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar