Seperti rembulan yang menyinari malam,
kamu yang memancarkan sinar terang dalam
hidupku. Aku layaknya bintang kecil yang mungkin begitu sulit kau lihat. Kini
aku tengah menatapmu tanpa lengah. Entah kamu sadar atau tidak akan
keberadaanku. Mungkin saja kamu sadar hanya saja kamu begitu sangat tidak
peduli akan adanya aku. Sedang aku begitu mendambakan pertemuan kita. Iya!! Itu
pertama kalinya aku melihatmu secara nyata. Meski pada nyatanya semua harapan
dan anganku dulu tidak bisa aku lakukan kini. Dulu, aku mengharapkan bisa
benar-benar menatap kedua bola matamu. Menyentuh kedua tanganmu dan menggenggam
jarimu. Bahkan memelukmu dengan begitu erat. Kini nyatanya semua tak bisa aku
lakukan karna yang hanya dapat aku lakukan hanya melihatmu dan memperhatikanmu.
Taukah kamu betapa hati ini berguncang, betapa jantung ini berdegup sangat
cepat dan betapa aku ingin menangis. Aku ingin menangis karna aku begitu
merindukanmu, sangat. Sudah berapa lama kita tidak berkomunikasi?? Seminggu??
Atau sebulan??? Seberapapun itu aku merindukanmu. Aku ingin bertanya padamu,
apa yang kau rasakan sebenarnya terhadapku. Apa semua pengakuan sayangmu
terhadapku hanya bualan semata? Hanya ucapan tanpa rasa yang nyata. Pernah ku
katakan jika perasaan yang ku miliki padamu adalah nyata. Dan itu masih sangat
aku rasakan hingga kini.
Kini aku tau kamu tengah bersama yang
lain. Ya!! Aku dengar kamu tengah menggenggam hubungan bersama seorang gadis. Apa
gadis yang kini bersamamu ia adalah orang yang kau sayangi sesungguhnya. Gadis
yang akan menjalani kehidupan nyata denganmu. Dan, yang ku tahu sepertinya ia terlalu bocah. Apa dia
bisa mengertimu daripada aku?? Atau mungkin ini karma yang harus kamu terima?? Dulu
aku mencoba menerima sikapmu yang terlalu mudah marah, sangat mudah ngambek saat
kemauanmu tak ku turuti. Apa sekarang kamu yang melakukan itu untuknya? Kamu
yang mengertinya? Beruntung sekali dirinya. Bahkan dulu aku merasa tak pernah
dimengertimu. Pedih.
Mungkin memang kamu nggak pernah
sesayang aku menyayangimu. Kamu nggak pernah merindu sedalam aku merindukanmu. Kamu
tidak pernah merasakan itu semua. Sementara aku disini begitu lemah, begitu
rapuh. Sikap dinginmu kini adalah siksa yang ku rasa, hantaman karang masih
kalah perih dari ini. Aku hanya mencoba tegar menghadapi sikapmu. Boleh aku
jujur padamu, aku masih berharap sikapmu akan seperti semula. Sikap manismu yang takkan membuatku lupa, yang
bahkan masih sangat ku ingat. Sikap manjamu, sikap ambekanmu itu semua aku
rindukan. Sudahlah aku ingin sekali tidak peduli dengan ini semua, sama seperti
kamu yang sangat tidak peduli terhadap perasaan ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar