Dan kini aku berada dalam ketidakpastian. Sebuah pilihan
antara berjalan terus atau mengambil langkah kembali. Sebuah pilihan antara
berani dengan kenyataan atau tetap berada di dalam angan. Dan kini aku hanya
diam. Sejenak memikirkan langkah yang harus aku jalani. Merenungkan apa yang
sekiranya akan terjadi. Berandai-andai dengan pilihan yang akan aku ambil.
Bukankah semua pilihan mempunyai sisi baik dan buruk. Bukankah semua mempunyai
resiko sendiri. Hanya bagaimana diri kita bisa mengatasi dan menanggapinya. Seperti
halnya kita memakan sesuatu yang pedas, resiko yang mungkin terjadi adalah kita
akan sakit perut, semua pilihan ada di diri kita sendiri.
Cukup lama aku merenungkan. Cukup lama aku memikirkan. Kini
keputusan itu telah ku buat. Aku memilih melangkah kedepan. Aku memilih
melangkah dengan pilihan baru dengan segala resiko yang kemungkinan akan
terjadi. Apapun itu. Dan ini semua adalah pilihan tentang melanjutkan kehidupan
baruku di masa depan. Dengan seseorang yang akan menghabiskan waktunya untukku.
Dengan seseorang yang setiap pagi dapat ku tatap matanya. Dengan seseorang yang
akan memberikan kecupan manis setiap hariya. Terkadang aku tertawa geli sendiri
membayangkannya. Aku tidak sabar menunggu kapan waktu itu tiba. Waktu di mana
semua pengandaianku menjadi nyata di kehidupanku.
Kini aku bahagia. Sangat. Mendapati perhatiannya, kasih
sayangnya, pengertiannya, waktunya. Merasa di utamakan, merasa di pentingkan.
Merasa menjadi hal yang berarti untuknya. Ternyata seperti ini rasanya di
cintai. Seperti ini rasanya ketika seseorang melakukan hal yang bahkan belom
kita pinta. Aku merasa beruntung menjadi kecintaanmu. Menjadi wanita yang kamu
pilih. Menjadi wanita yang akan kamu nikahi. Menjadi wanita yang akan
mendampingimu sampai akhir usia. Aamiin.
Namun terkadang aku lupa bahwa menikah itu bukan hanya pekara
aku dan kamu menjadi kita. Ini juga tentang dua keluarga menjadi satu keluarga.
Iya! Keluargamu dengan keluargaku. Keluarga besar aku harus menerima bahwa kamu
yang aku pilih sebagai calon imamku. Dan begitu pun sebaliknya. Apa keluargamu
bisa menerima aku yang masih kekanak-kanakan ini? Apa keluargamu bisa menerima
aku yang masih saja tidak bisa bangun pagi? Apa keluargamu bisa menerima aku
yang masih tidak bisa memasak? Banyak hal yang masih sangat kurang dalam diri
ini. Dan, apa kelak semua ini tak akan kita permasalahkan? Jika ku fikirkan
terus menerus membuatku takut. Membuatku ragu. Membuatku tak siap dengan ini.
Namun, aku tetap yakin akan pilihanku. Aku tetap memilihmu.
Jadilah kamu seorang yang akan menjadi imam untukku dan kelak
untuk anak-anak kita. Jadilah kamu seorang kepala rumah tangga yang bijaksana,
yang sabar, yang tak mudah terbawa emosi, yang dapat di andalkan, yang adil.
Jadilah kamu seorang yang penyayang dalam rumah. Jadilah kamu seorang yang
membawa kebaikan, yang akan membimbingku selalu. Jadilah kamu seorang yang aku
impikan, yang aku banggakan. Jadilah kamu seorang yang slalu memilihku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar