Kamis, 09 Agustus 2018

PILIHANKU, KAMU


Dan kini aku berada dalam ketidakpastian. Sebuah pilihan antara berjalan terus atau mengambil langkah kembali. Sebuah pilihan antara berani dengan kenyataan atau tetap berada di dalam angan. Dan kini aku hanya diam. Sejenak memikirkan langkah yang harus aku jalani. Merenungkan apa yang sekiranya akan terjadi. Berandai-andai dengan pilihan yang akan aku ambil. Bukankah semua pilihan mempunyai sisi baik dan buruk. Bukankah semua mempunyai resiko sendiri. Hanya bagaimana diri kita bisa mengatasi dan menanggapinya. Seperti halnya kita memakan sesuatu yang pedas, resiko yang mungkin terjadi adalah kita akan sakit perut, semua pilihan ada di diri kita sendiri.

Cukup lama aku merenungkan. Cukup lama aku memikirkan. Kini keputusan itu telah ku buat. Aku memilih melangkah kedepan. Aku memilih melangkah dengan pilihan baru dengan segala resiko yang kemungkinan akan terjadi. Apapun itu. Dan ini semua adalah pilihan tentang melanjutkan kehidupan baruku di masa depan. Dengan seseorang yang akan menghabiskan waktunya untukku. Dengan seseorang yang setiap pagi dapat ku tatap matanya. Dengan seseorang yang akan memberikan kecupan manis setiap hariya. Terkadang aku tertawa geli sendiri membayangkannya. Aku tidak sabar menunggu kapan waktu itu tiba. Waktu di mana semua pengandaianku menjadi nyata di kehidupanku.

Kini aku bahagia. Sangat. Mendapati perhatiannya, kasih sayangnya, pengertiannya, waktunya. Merasa di utamakan, merasa di pentingkan. Merasa menjadi hal yang berarti untuknya. Ternyata seperti ini rasanya di cintai. Seperti ini rasanya ketika seseorang melakukan hal yang bahkan belom kita pinta. Aku merasa beruntung menjadi kecintaanmu. Menjadi wanita yang kamu pilih. Menjadi wanita yang akan kamu nikahi. Menjadi wanita yang akan mendampingimu sampai akhir usia. Aamiin.

Namun terkadang aku lupa bahwa menikah itu bukan hanya pekara aku dan kamu menjadi kita. Ini juga tentang dua keluarga menjadi satu keluarga. Iya! Keluargamu dengan keluargaku. Keluarga besar aku harus menerima bahwa kamu yang aku pilih sebagai calon imamku. Dan begitu pun sebaliknya. Apa keluargamu bisa menerima aku yang masih kekanak-kanakan ini? Apa keluargamu bisa menerima aku yang masih saja tidak bisa bangun pagi? Apa keluargamu bisa menerima aku yang masih tidak bisa memasak? Banyak hal yang masih sangat kurang dalam diri ini. Dan, apa kelak semua ini tak akan kita permasalahkan? Jika ku fikirkan terus menerus membuatku takut. Membuatku ragu. Membuatku tak siap dengan ini. Namun, aku tetap yakin akan pilihanku. Aku tetap memilihmu.

Jadilah kamu seorang yang akan menjadi imam untukku dan kelak untuk anak-anak kita. Jadilah kamu seorang kepala rumah tangga yang bijaksana, yang sabar, yang tak mudah terbawa emosi, yang dapat di andalkan, yang adil. Jadilah kamu seorang yang penyayang dalam rumah. Jadilah kamu seorang yang membawa kebaikan, yang akan membimbingku selalu. Jadilah kamu seorang yang aku impikan, yang aku banggakan. Jadilah kamu seorang yang slalu memilihku.


inanovelania 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar